JAKARTA, Jawa Pos Radar Madiun – Kerja sama dalam perluasan akses pendanaan petani terjalin antara PT Eratani Teknologi Nusantara dengan Bank Jatim. Penandatanganan nota kesepahaman ini dilakukan pada Oktober 2024 yang bertepatan dengan bulan atau Hari Pangan Sedunia.
Kerja sama yang diinisiasi oleh PT Eratani Teknologi Nusantara ini merupakan bentuk nyata maupun komitmen perusahaan agritech tersebut dalam mendukung program ketahanan pangan dan kesejahteraan petani Indonesia.
Lewat kerja sama tersebut, Eratani dan Bank Jatim berkomitmen untuk menyediakan solusi keuangan dan dukungan teknis yang diperlukan guna meningkatkan produktivitas dalam proses budi daya padi.
Berdasarkan data yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada awal Oktober lalu menunjukkan bahwa Loan at Risk (LaR) perbankan mengalami penurunan positif menjadi 10,17 persen atau turun dari 10,27 persen dibandingkan pada Juli 2024.
Di sisi lain, NPL (Non-Performing Loan) perbankan tampak membaik. Yakni, mencapai 0,78 persen dari sebelumnya 0,79 persen. Data tersebut dinilai mencerminkan pemulihan yang signifikan dalam sektor keuangan.
Meski demikian, pengelolaan risiko kredit tetap menjadi perhatian utama. Eratani berkomitmen untuk menjaga kualitas pendanaan yang disalurkan dan meminimalisir risiko melalui penerapan sistem e-KYC (Electronic Know Your Customer). Sistem ini memungkinkan identifikasi calon penerima dana dan penilaian risiko dengan lebih akurat dan efisien.
Chief Executive Officer Eratani Andrew Soeherman mengungkapkan, Provinsi Jatim merupakan produsen beras terbesar di Indonesia selama empat tahun terakhir. Yang mana, jumlah produksinya mencapai 5,6 juta ton pada 2023.
Sebagai bentuk keseriusan dalam mendukung dan memastikan keberlanjutan pasokan pangan, pihaknya secara aktif terus menjalin kolaborasi. Salah satunya dengan Bank Jatim untuk menyediakan akses pendanaan yang diperlukan bagi para petani.
’’Kami berharap kolaborasi ini dapat memberikan dampak positif yang signifikan bagi pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan sektor pertanian di Jawa Timur,’’ harap Andrew.
Sementara itu, Direktur Mikro, Ritel, dan Menengah Bank Jatim Arief Wicaksono mengatakan, kerja sama yang terjalin antara pihaknya dengan Eratani ini merupakan bagian dari langkah strategis Bank Jatim ikut berkontribusi pada sektor pertanian. ’’Kami yakin bahwa sektor pertanian memiliki potensi besar dalam mendorong perekonomian nasional,’’ katanya.
Lebih lanjut, Arief menambahkan melalui program kemitraan dengan Eratani bisa meningkatkan penyaluran KUR dan Kredit Jatim Mikro. ’’Agar supaya petani binaan Eratani dapat lebih produktif dalam melakukan budi daya mereka,’’ imbuhnya.
Adapaun dari kerja sama ini para petani akan mendapatkan sejumlah fasilitas. Di antaranya, petani binaan Eratani dapat memperoleh pendanaan dengan persyaratan yang lebih ringan dan proses yang lebih cepat hingga Rp 500 juta per orang.
Meski begitu, jumlah pendanaan yang diperoleh akan disesuaikan dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang dirancang berdasarkan kebutuhan spesifik setiap petani. Fleksibilitas ini memungkinkan para petani untuk menyesuaikan kebutuhan modal kerja untuk budi daya padi secara efisien dan praktis. Dengan begitu, mereka dapat lebih fokus pada pengembangan bisnis pertanian mereka.
Di samping itu, Eratani memberikan jaminan perlindungan terhadap risiko kredit macet dalam penyaluran KUR dan Kredit Jatim Mikro. Dengan demikian, Bank Jatim dapat melakukan ekspansi bisnis sambil tetap menjaga kualitas penyaluran kredit.
Yang pasti, kerja sama ini memberikan kesempatan bagi Bank Jatim untuk mengoptimalkan dukungannya terhadap pertumbuhan dan pengembangan sektor pertanian Indonesia. Ke depan, Eratani akan terus membuka peluang kemitraan dengan berbagai pihak yang memiliki visi sama dalam memajukan sektor pertanian Indonesia. (*)
Editor : Hengky Ristanto