Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

The Fed Pangkas Suku Bunga Pertama Tahun Ini, Jerome Powell: Pasar Tenaga Kerja Melemah, Dolar AS Stabil, Rupiah Berpotensi Menguat

AA Arsyadani • Jumat, 19 September 2025 | 00:42 WIB
Ilustrasi pidato Ketua The Fed Jerome Powell di Jackson Hole yang membuat pasar kripto menguat.
Ilustrasi pidato Ketua The Fed Jerome Powell di Jackson Hole yang membuat pasar kripto menguat.

Jawa Pos Radar Madiun - Untuk pertama kalinya tahun ini, The Federal Reserve (The Fed) menurunkan suku bunga acuannya dan memberi sinyal kemungkinan pemangkasan tambahan seiring melemahnya pasar tenaga kerja.

Keputusan ini diharapkan mendukung mata uang negara berkembang dalam jangka pendek.

Federal Open Market Committee (FOMC) menurunkan federal funds rate (FFR) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4–4,25 persen, sesuai ekspektasi pasar di Wall Street.

Mayoritas pimpinan The Fed memperkirakan akan ada setidaknya dua kali penurunan suku bunga tambahan masing-masing 25 bps sebelum akhir tahun ini.

Langkah yang lebih dovish ini mencerminkan kekhawatiran The Fed terhadap pelemahan pasar tenaga kerja dibandingkan potensi lonjakan inflasi akibat tarif impor.

“Pasar tenaga kerja telah melemah. Kemungkinan terjadinya lonjakan inflasi yang berkepanjangan kini lebih kecil,” ujar Gubernur The Fed Jerome Powell dalam rapat, Rabu (17/9) mengutip Financial Times.

Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro menjelaskan, pemangkasan FFR ini merupakan yang pertama sejak Desember 2024 dan mencerminkan kekhawatiran terhadap kondisi ketenagakerjaan di AS.

“The Fed juga memberi sinyal dua penurunan tambahan sebelum akhir tahun,” jelasnya kepada Jawa Pos, Kamis (18/9).

Bank sentral AS mencatat aktivitas ekonomi moderat, pertumbuhan lapangan kerja melambat, dan inflasi kembali naik.

Sementara itu, ketidakpastian prospek ekonomi tetap tinggi, dengan risiko penurunan di sektor ketenagakerjaan meningkat.

The Fed juga merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi AS 2025 menjadi 1,6 persen dari sebelumnya 1,4 persen, dan proyeksi suku bunga acuan untuk 2026 lebih rendah dari sebelumnya, meski inflasi diperkirakan lebih tinggi.

“Ini menunjukkan kemungkinan soft landing dengan pertumbuhan berkelanjutan dan tren inflasi menurun,” terang Asmoro, alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia 1995.

Kekhawatiran terhadap inflasi akibat kebijakan perdagangan mereda, dengan fokus kini pada perlambatan ekonomi dan potensi kenaikan pengangguran.

Powell menegaskan, keputusan kebijakan moneter akan tetap bergantung pada data terbaru.

Indeks dolar AS (DXY) stabil di 96,8 karena pasar telah mengantisipasi pemangkasan FFR.

Bursa saham AS bergerak campuran, dengan Dow Jones naik 0,5 persen dan S&P 500 turun 0,1 persen.

Asmoro menambahkan, pemangkasan suku bunga The Fed berpotensi mendukung mata uang negara berkembang. Untuk Indonesia, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp 16.400–16.500 per USD.

“Imbal hasil obligasi pemerintah juga berpotensi turun ke 6,25–6,35 persen seiring turunnya imbal hasil obligasi AS,” jelasnya. (fin)

Editor : AA Arsyadani
#the fed #pasar tenaga kerja #suku bunga as #rupiah #dolar as #jerome powell