Jawa Pos Radar Madiun – Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali menunjukkan tren positif pada perdagangan Selasa, 4 November 2025.
Berdasarkan data gerai BELM Setiabudi One, Jakarta Selatan, harga emas naik Rp 8.000 menjadi Rp 2.286.000 per gram.
Kenaikan ini melanjutkan tren positif setelah pada perdagangan Senin (3/11), harga emas berada di level Rp 2.278.000 per gram.
Sementara itu, harga buyback atau penjualan kembali emas ke Antam juga mengalami kenaikan Rp 8.000 menjadi Rp 2.151.000 per gram.
Artinya, jika masyarakat menjual emas batangan ke gerai resmi Antam, maka akan dibayar dengan harga tersebut.
Kenaikan Harga Menguntungkan Pemegang Emas Lama
Kenaikan harga emas dalam beberapa tahun terakhir memberikan keuntungan besar bagi investor jangka panjang.
Sebagai gambaran, pada 26 November 2022, harga emas Antam masih di kisaran Rp 936.000 per gram.
Jika seseorang membeli 5 gram emas saat itu dengan total sekitar Rp 4.680.000, maka jika dijual pada 4 November 2025, nilainya mencapai Rp 10.755.000.
Artinya, terjadi kenaikan nilai investasi sekitar Rp 6.075.000, belum termasuk pajak penjualan.
Kenaikan ini menegaskan bahwa emas tetap menjadi instrumen investasi yang stabil dan aman, terutama bagi masyarakat yang menyimpan asetnya dalam jangka panjang.
Harga Emas Dunia Cenderung Stabil
Mengutip laporan Reuters, harga emas dunia pada perdagangan Selasa (4/11) juga bergerak stabil di kisaran USD 4.000 per troy ounce.
Investor global kini menantikan data penggajian swasta (ADP) dan PMI ISM Amerika Serikat (AS) untuk memprediksi arah kebijakan The Federal Reserve (The Fed) menjelang akhir tahun.
Harga emas spot berada di level USD 4.002,35 per troy ounce, sementara emas berjangka pengiriman Desember naik 0,4 persen ke USD 4.014 per troy ounce.
Meski telah naik 53 persen sepanjang tahun 2025, harga emas dunia sempat terkoreksi lebih dari 8 persen dari rekor tertingginya pada 20 Oktober 2025.
Kebijakan The Fed dan Arah Pasar Emas
Pekan lalu, The Fed memangkas suku bunga untuk kedua kalinya tahun ini. Namun, Ketua Jerome Powell menegaskan belum ada kepastian terkait pemangkasan lanjutan.
Saat ini, pelaku pasar memperkirakan peluang 65,3 persen adanya pemotongan suku bunga tambahan pada Desember, menurun dari ekspektasi sebelumnya yang hampir pasti.
Secara historis, harga emas cenderung menguat ketika suku bunga rendah karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil, namun dianggap lebih aman saat ketidakpastian ekonomi meningkat. (fin)
Editor : AA Arsyadani