Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Rupiah Kian Tertekan di Awal November 2025, Sentuh Rp16.700 per Dolar AS di Tengah Ketidakpastian The Fed

Rimba Febriani • Selasa, 4 November 2025 | 23:23 WIB

 

Rupiah kembali tertekan ke Rp16.700 per dolar AS, dipicu penguatan dolar global dan belum pastinya arah kebijakan The Fed.
Rupiah kembali tertekan ke Rp16.700 per dolar AS, dipicu penguatan dolar global dan belum pastinya arah kebijakan The Fed.

Jawa Pos Radar Madiun — Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan pekan ini.

Mata uang Indonesia kini menembus Rp16.700 per dolar AS, mendekati posisi terlemah sepanjang sejarah.

Rupiah Nyaris Sentuh Rekor Terendah

Data pasar spot menunjukkan rupiah dibuka di level Rp16.679 per dolar AS, turun 0,13% dibandingkan penutupan sebelumnya.

Depresiasi berlanjut sepanjang perdagangan pagi; hingga pukul 09.03 WIB, rupiah melemah ke Rp16.705 per dolar AS atau turun 0,29%.

Posisi ini hanya terpaut sekitar 150 poin dari rekor terendah sepanjang masa (All Time Low/ATL).

Mata Uang Asia Kompak Melemah

Rupiah bukan satu-satunya mata uang yang tertekan. Sejumlah mata uang Asia lainnya juga melemah akibat penguatan dolar AS di pasar global.

Namun, pelemahan rupiah termasuk yang terdalam di kawasan, hanya sedikit lebih baik dibanding won Korea Selatan yang menempati posisi paling lemah di Asia.

Dolar AS Menguat di Tengah Ketidakpastian The Fed

Kekuatan dolar AS ditopang ketidakpastian arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).

Meskipun bank sentral AS sempat memangkas suku bunga pada Oktober, pelaku pasar masih menanti kepastian langkah selanjutnya menjelang rapat Desember.

“Penurunan suku bunga acuan lebih lanjut pada Desember belum jadi keputusan. Jauh dari itu,” ujar Gubernur The Fed Jerome “Jay” Powell dalam konferensi pers setelah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC), dikutip dari Bloomberg News.

Peluang Pemangkasan Suku Bunga Masih Terbatas

Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,5–3,75% pada Desember mencapai 65,3%, sementara peluang suku bunga ditahan di kisaran 3,75–4% sebesar 34,7%.

“Arah kebijakan The Fed sepertinya masih keruh. Investor masih menunggu sinyal pasti sebelum mengambil posisi besar,” kata analis Ulrike Hoffmann-Buchardi dari UBS Global Wealth Management.

Investor Beralih ke Aset Aman

Dalam kondisi ketidakpastian seperti ini, investor global cenderung menghindari aset berisiko termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah.

Aset lindung nilai seperti dolar AS dan emas menjadi pilihan utama, menyebabkan tekanan tambahan pada nilai tukar rupiah dan mata uang Asia lainnya.

Pelemahan rupiah di awal November 2025 mencerminkan sentimen global yang masih berhati-hati terhadap arah kebijakan The Fed.

Selama ketidakpastian ini berlanjut, tekanan terhadap mata uang Asia, termasuk rupiah, diperkirakan masih akan bertahan dalam jangka pendek. (fin)

Editor : AA Arsyadani
#rupiah melemah #the fed #nilai tukar rupiah #ekonomi global #suku bunga acuan AS #rupiah #dolar as #kurs rupiah #investor global #bank sentral as