Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

IHSG Menguat di Tengah Pelemahan Bursa Asia dan Global, Investor Diminta Waspadai Sentimen Properti dan AI

Riski Asari • Jumat, 7 November 2025 | 17:34 WIB

 

IHSG cetak rekor usai reshuffle kabinet Prabowo, pasar optimis dan sektor perbankan jadi penggerak utama.
IHSG cetak rekor usai reshuffle kabinet Prabowo, pasar optimis dan sektor perbankan jadi penggerak utama.

Jawa Pos Radar Madiun — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menguat pada perdagangan Jumat (7/11/2025), meski bursa saham di Asia dan global kompak melemah.

Pada pembukaan pagi ini, IHSG naik 9,52 poin atau 0,11 persen ke posisi 8.346,50. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan juga menguat 0,40 poin atau 0,05 persen ke level 848,05.

“IHSG hari ini diprediksi bergerak melemah dalam rentang 8.200–8.350,” ujar Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih, dalam risetnya di Jakarta, Jumat.

Sentimen Domestik: Sektor Properti Masih Tertahan

Dari dalam negeri, Bank Indonesia mencatat Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada kuartal III-2025 tumbuh 0,84 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), sedikit melambat dibanding kuartal sebelumnya yang tumbuh 0,90 persen.

Dari sisi penjualan, jumlah unit properti residensial turun 1,29 persen (yoy), meski membaik dibanding kontraksi 3,80 persen pada kuartal II-2025. Sekitar 74,41 persen pembelian rumah masih menggunakan skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Kondisi ini menandakan bahwa permintaan sektor properti belum sepenuhnya pulih, terutama akibat tingginya suku bunga dan daya beli masyarakat yang masih lemah di tengah masa transisi pemerintahan.

Sentimen Global: Kekhawatiran di Sektor AI dan Inflasi China

Dari sisi global, pelaku pasar masih mencermati tekanan pada saham teknologi dan Artificial Intelligence (AI) di Wall Street. Saham-saham di sektor tersebut dinilai mulai overvalued dan berpotensi tumbuh di bawah ekspektasi.

Di Asia, perhatian investor tertuju pada rilis data inflasi China akhir pekan ini. Sebelumnya, China mencatat deflasi konsumen sebesar 0,3 persen (yoy) dan deflasi produsen sebesar 2,3 persen (yoy) pada September 2025.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap melemahnya permintaan global, termasuk terhadap komoditas nonmigas yang menjadi salah satu tumpuan ekspor Indonesia.

Bursa Global Melemah Serempak

Pada perdagangan Kamis (6/11), bursa saham global kompak ditutup di zona merah.

Indeks di kawasan Eropa seperti Euro Stoxx 50, FTSE 100 Inggris, DAX Jerman, dan CAC Prancis masing-masing terkoreksi antara 0,4 hingga 1,3 persen.

Di Amerika Serikat, Dow Jones Industrial Average turun 0,84 persen ke 46.913,65, S&P 500 melemah 1,12 persen ke 6.720,39, dan Nasdaq Composite anjlok 1,91 persen ke 25.130,04.

Sementara di Asia, Nikkei 225 Jepang melemah 1,91 persen, Shanghai Composite turun 0,14 persen, dan Hang Seng Hong Kong terkoreksi 0,80 persen.

Hanya Straits Times Singapura yang mencatat penguatan tipis 0,18 persen.

IHSG Tetap Tangguh di Tengah Tekanan Global

Meski tekanan eksternal masih kuat, IHSG masih mampu bergerak positif berkat dukungan investor domestik dan penguatan sejumlah saham unggulan.

Namun, analis memperingatkan agar investor tetap berhati-hati terhadap risiko global, terutama koreksi saham teknologi dan pelemahan ekonomi China yang berpotensi mempengaruhi pasar komoditas Indonesia.

Dengan volatilitas yang tinggi, investor disarankan memperhatikan sektor defensif dan fundamental kuat seperti perbankan, telekomunikasi, serta energi bersih yang relatif lebih stabil di tengah gejolak global. (fin)

Editor : AA Arsyadani
#bursa Asia #ai #bursa efek indonesia (bei) #ihsg hari ini #Saham properti