Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Benarkah Komoditas Sawit Jadi Penyelamat Ekonomi Indonesia? Begini Penjelasan Airlangga Hartanto

Sukma Maharani Putri • Sabtu, 15 November 2025 | 14:20 WIB

 

 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengumumkan bahwa pemerintah memberikan 6 stimulus kepada rakyat.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengumumkan bahwa pemerintah memberikan 6 stimulus kepada rakyat.

Jawa Pos Radar Madiun - Industri sawit kembali menegaskan posisinya sebagai penopang utama perekonomian nasional.

Dalam pembukaan 21st Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) dan 2026 Price Outlook di Nusa Dua, Bali, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa sektor ini memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas neraca perdagangan Indonesia.

Menurut Airlangga, hingga September 2025 surplus perdagangan Indonesia mencapai 4,34 miliar dolar AS.

Dari angka tersebut, minyak sawit menjadi salah satu penyumbang terbesar melalui peningkatan ekspor yang signifikan.

Pada periode Januari hingga September 2025, volume ekspor minyak sawit tercatat mencapai 28,55 juta ton atau naik dibandingkan tahun sebelumnya.

Ia menjelaskan bahwa India dan Tiongkok masih menjadi pasar terbesar bagi produk sawit Indonesia, sementara permintaan dari Jepang dan Selandia Baru menunjukkan tren positif, terutama untuk komoditas nonmigas berbasis sawit.

Dengan harga tandan buah segar (TBS) yang stabil di sekitar Rp3.000 per kilogram, Airlangga menegaskan bahwa kesejahteraan petani tetap terjaga dan industri sawit semakin kompetitif.

Dari sisi keberlanjutan, pemerintah memperkuat penerapan Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO).

Sistem informasi terpadu tengah disiapkan untuk menghubungkan berbagai kebijakan, data sertifikasi, dan rantai pasok.

Mekanisme ini dinilai mampu meningkatkan transparansi sekaligus memungkinkan pelacakan produk secara real time.

Airlangga juga menyoroti peran sawit dalam agenda transisi energi bersih nasional.

Program biodiesel Indonesia kini telah mencapai level B40 dan ditargetkan meningkat menjadi B50 pada semester kedua 2026.

Program energi berbasis sawit ini menjadi salah satu yang terbesar di dunia dan diklaim telah berkontribusi mengurangi emisi hingga 41,46 juta ton CO2.

Selain biodiesel, pemerintah sedang mengembangkan bioavtur dan bioetanol berbahan baku sawit untuk memenuhi kebutuhan energi berkelanjutan sektor transportasi darat maupun udara.

Kedua produk itu ditargetkan mulai dipasarkan secara komersial dalam dua hingga tiga tahun ke depan.

Dalam penutupannya, Airlangga menegaskan pentingnya memperkuat hilirisasi sawit agar Indonesia tidak hanya mengandalkan ekspor bahan mentah.

Menurutnya, inovasi dan diversifikasi produk akan menciptakan nilai tambah yang lebih besar, membuka lapangan kerja baru, dan memperkuat daya saing industri nasional.

Ia mencontohkan kerja sama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dengan sektor pertahanan yang mulai memanfaatkan bahan baku sawit untuk produksi nasional. (fin)

Editor : AA Arsyadani
#industri sawit #kelapa sawit #Menko Perekonomian Airlangga Hartanto #airlangga hartanto