Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Kisah Batik Malessa Solo, UMKM Perempuan Naik Kelas Lewat Rumah BUMN BRI

Hengky Ristanto • Minggu, 14 Desember 2025 | 18:37 WIB
Perajin Batik Malessa di Kampung Dipotrunan, Tipes, Serengan, Solo, tengah mengerjakan busana batik dan lurik yang menjadi produk unggulan UMKM berbasis pemberdayaan perempuan.
Perajin Batik Malessa di Kampung Dipotrunan, Tipes, Serengan, Solo, tengah mengerjakan busana batik dan lurik yang menjadi produk unggulan UMKM berbasis pemberdayaan perempuan.

Jawa Pos Radar Madiun – Dari sebuah rumah produksi di Kampung Dipotrunan, Tipes, Serengan, Surakarta, denyut pemberdayaan perempuan tumbuh pelan tapi pasti.

Di sudut kampung itu, mesin jahit berdetak seirama dengan tangan-tangan perempuan yang menata kain batik, memotong lurik, hingga menjahit pola.

Dari sanalah Batik Malessa lahir—sekaligus menjadi penopang ekonomi keluarga setempat.

Usaha ini dirintis Madu Mastuti sejak 2018. Ia berangkat dari mimpi sederhana: menciptakan ruang bagi ibu rumah tangga agar tetap berdaya tanpa harus meninggalkan keluarga.

Seiring waktu, Batik Malessa tak hanya berkembang secara ekonomi, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi perempuan di lingkungannya.

Madu melihat banyak perempuan memiliki keterampilan, namun minim ruang kerja.

Dari kegelisahan itu, ia membentuk Kelompok Wanita Berkarya, wadah belajar dan bekerja bagi ibu rumah tangga yang tetap memungkinkan mereka mengasuh anak.

Tujuannya jelas: memberdayakan perempuan agar mampu menopang ekonomi keluarga.

Awalnya, kelompok ini memproduksi daster dari kain perca—sisa bahan yang diolah menjadi busana rumahan.

Perlahan, usaha berkembang ke kerajinan dan fashion.

Batik, lurik, dan tenun mulai dipadupadankan menjadi produk fesyen bernilai lebih tinggi.

“Kami memproduksi produk-produk premium dari batik, lurik, dan tenun yang dipadukan menjadi busana fashion,” ujar Madu.

Dari bahan sederhana, lahirlah produk eksklusif dengan ciri khas kuat.

Nama Malessa sendiri merupakan gabungan nama Madu dan putrinya, Alesa—menjadi simbol perjalanan personal sekaligus usaha keluarga.

Legalitas usaha pun telah lengkap, mulai dari HAKI, NIB, hingga TKDN.

Produk Malessa terbagi dalam dua lini. Pertama, produk massal seperti daster dan busana rumahan yang dipasarkan di toko oleh-oleh besar.

Kedua, produk premium berupa busana eksklusif hasil padu padan batik, lurik, dan tenun.

Dalam proses produksi, Malessa menerapkan quality control ketat.

Setiap desain diawali sketsa agar tetap unik.

Prinsip zero waste juga dijalankan. Sisa kain dimanfaatkan menjadi tas, topi, bantal, dompet, hingga gantungan kunci.

Keunikan tersebut membuat produk Malessa dilirik berbagai kalangan.

Mulai pembawa acara Piala Dunia U-17 hingga pejabat publik pernah mengenakan karyanya.

Kepercayaan pasar ini mengukuhkan kualitas usaha rumahan tersebut.

Saat ini, Malessa melibatkan delapan pekerja—enam perempuan dan dua laki-laki—mulai dari penjahit hingga kurir.

Dua di antaranya telah terdaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan.

Produksi pun meningkat hingga 40 persen dibanding awal usaha.

Penambahan mesin jahit dan mesin potong melalui fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI membuat proses kerja lebih efisien dan membuka peluang distribusi lebih luas.

“Alhamdulillah, dari 2018 sampai 2025 usaha kami terus berkembang dan memberdayakan masyarakat sekitar. Kami sudah bermitra dengan toko oleh-oleh dan toko batik di dalam maupun luar kota, bahkan di bandara,” tutur Madu.

Dukungan BRI melalui Rumah BUMN BRI Solo menjadi titik penting perjalanan Malessa.

Selain permodalan, Madu mendapat berbagai pelatihan dan pendampingan—mulai BIMTEK ekspor hingga program BRIncubator yang membekali UMKM dengan pengetahuan bisnis, digitalisasi, dan kesiapan ekspor.

Berbekal pendampingan itu, produk Malessa kini tersebar di toko, bandara, dan hotel di Surakarta.

Karyanya juga pernah dipamerkan di luar negeri, seperti Belanda, Swiss, dan Australia.

“Program BRI luar biasa. Saya mendapat banyak ilmu, pendampingan, dan orientasi agar UMKM bisa naik kelas dan siap ekspor,” katanya.

Bagi Madu, Malessa Fashion & Craft bukan sekadar usaha.

Ini adalah rumah bagi mimpi banyak perempuan—tempat belajar, berdaya, dan memperkuat ekonomi keluarga.

Ia meyakini, ketika perempuan berdaya, keluarga dan masyarakat ikut menguat.

Pada kesempatan terpisah, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menegaskan komitmen BRI dalam mendorong UMKM naik kelas melalui berbagai program pemberdayaan, termasuk Rumah BUMN BRI.

Hingga akhir September 2025, BRI telah membina 54 Rumah BUMN BRI dan menyelenggarakan lebih dari 17 ribu pelatihan.

“Ini bagian dari strategi BRI memperkuat ekosistem UMKM di berbagai daerah. Dengan dukungan pemberdayaan, UMKM diharapkan mampu meningkatkan daya saing dan menciptakan nilai tambah di pasar,” tegasnya. (*)

Editor : Hengky Ristanto
#batik solo #Batik Malessa #industri kreatif #Ekonomi kreatif #KUR BRI #rumah bumn bri #pemberdayaan perempuan #kerajinan batik #Ibu Rumah Tangga Berdaya #Fashion Batik #umkm solo