Jawa Pos Radar Madiun - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memulai perdagangan hari ini dengan pergerakan datar.
Namun, kondisi tersebut tak bertahan lama.
Tekanan jual yang cepat muncul membuat mata uang Garuda langsung melemah dan bergerak ke zona merah.
Pada perdagangan pasar spot Selasa (16/12/2025), rupiah dibuka stagnan di level Rp16.668 per dolar AS, sama dengan posisi penutupan sebelumnya.
Akan tetapi, hanya dalam hitungan menit, rupiah mulai tertekan.
Hingga pukul 09.06 WIB, nilai tukar rupiah tercatat melemah tipis 0,06% ke level Rp16.678 per dolar AS.
Di kawasan Asia, pergerakan mata uang utama terlihat tidak seragam.
Baht Thailand mencatat pelemahan terdalam dengan depresiasi 0,25%.
Tekanan juga dialami won Korea Selatan yang turun 0,19%, dolar Taiwan melemah 0,18%, dan rupiah berada di jajaran mata uang yang ikut tertekan.
Sebaliknya, sejumlah mata uang Asia justru mencatat penguatan. Peso Filipina memimpin dengan apresiasi 0,22%, diikuti yen Jepang yang menguat 0,20%. Yuan China naik 0,07%, dolar Hong Kong menguat 0,06%, sementara ringgit Malaysia terapresiasi tipis 0,03%.
Pergerakan yang cenderung hati-hati ini mencerminkan sikap investor yang kembali memasuki fase wait and see.
Pasalnya, pekan ini pasar global tengah menantikan sejumlah rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat, terutama yang berkaitan dengan kondisi pasar tenaga kerja.
Salah satu data yang paling dinanti adalah laporan non-farm payroll (NFP) periode November.
Konsensus pasar memperkirakan ekonomi AS hanya mampu menambah sekitar 50.000 lapangan kerja baru, dengan tingkat pengangguran diproyeksikan meningkat ke level 4,5%.
Jika proyeksi tersebut terealisasi, kondisi ini mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja AS masih melemah, meskipun belum memasuki fase kontraksi yang signifikan.
Situasi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa perekonomian AS masih membutuhkan dukungan tambahan, termasuk dari sisi kebijakan moneter melalui peluang penurunan suku bunga acuan.
“Kita telah kembali ke rezim di mana kabar baik justru dianggap buruk, dan kabar buruk menjadi baik. Pemulihan pasar tenaga kerja yang positif bagi ekonomi justru akan menurunkan peluang pemangkasan suku bunga pada 2026,” ujar Michael Wilson, Strategist Morgan Stanley, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Sambil menunggu kejelasan arah kebijakan dan rilis data ekonomi dari Amerika Serikat, investor global cenderung memilih bersikap defensif.
Minimnya sentimen positif membuat aset-aset di negara berkembang, termasuk mata uang Asia, belum menjadi tujuan utama aliran modal.
Akibatnya, pergerakan mata uang kawasan Asia berlangsung fluktuatif, dengan rupiah ikut berada di bawah tekanan bersama sejumlah valuta regional lainnya. (fin)
Editor : AA Arsyadani