Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Bermodal 10 Meter Kain, Batik Binaan BRI Ini Tembus Pasar Internasional

Hengky Ristanto • Jumat, 19 Desember 2025 | 02:16 WIB
Rita Nova Omala menunjukkan salah satu produk Batik Canting Asasi, UMKM binaan BRI asal Padang Panjang yang berkembang dari modal 10 meter kain hingga menembus pasar internasional.
Rita Nova Omala menunjukkan salah satu produk Batik Canting Asasi, UMKM binaan BRI asal Padang Panjang yang berkembang dari modal 10 meter kain hingga menembus pasar internasional.

Jawa Pos Radar Madiun – Pandemi Covid-19 yang sempat melumpuhkan aktivitas ekonomi justru menjadi titik balik bagi Rita Nova Omala, pengrajin batik asal Padang Panjang, Sumatera Barat.

Dari keterbatasan itu, lahirlah Batik Canting Asasi, UMKM batik khas daerah yang kini berhasil menembus pasar nasional hingga mancanegara.

Rita memulai usaha Batik Canting Asasi pada November 2021 dengan modal sangat terbatas.

Ia hanya memiliki kain sepanjang 10 meter yang kemudian diolah menjadi tiga potong pakaian.

Hasil penjualan diputar kembali sebagai modal produksi berikutnya.

Perkembangan usahanya tak lepas dari pendampingan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui Rumah BUMN BRI Padang Panjang.

Dukungan diberikan mulai dari pelatihan, pendampingan usaha, promosi digital, hingga fasilitasi perluasan pasar.

Nama Batik Canting Asasi terinspirasi dari Masjid Asasi, masjid tertua di Padang Panjang yang berada di Kelurahan Sigando, lokasi tempat tinggal Rita.

Nilai sejarah dan religiusitas masjid tersebut menjadi filosofi utama dalam desain batik yang dihasilkan.

“Kami memakai pewarna alami yang lembut dan klasik. Kami memanfaatkan limbah seperti kulit jengkol dan biji pinang untuk bahan pewarna. Hasilnya lebih ramah lingkungan dan warnanya lebih awet,” jelas Rita.

Saat ini Batik Canting Asasi memiliki sejumlah motif unggulan, di antaranya Asasi, Barara, dan Panen.

Motif Asasi menjadi yang paling diminati karena merepresentasikan nilai budaya dan religi masyarakat setempat.

Selain kain batik, sanggar ini juga memproduksi pakaian jadi seperti jaket, blazer, dan setelan resmi yang digunakan berbagai kalangan, termasuk pejabat daerah.

Tak hanya fokus pada produk, Batik Canting Asasi juga menjadi sarana pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar.

Dari awalnya melibatkan empat orang, kini sanggar tersebut mempekerjakan 15 orang, mayoritas perempuan dan lansia.

“Ada yang melukis, mencap, mewarnai, sampai membuat jambul selendang. Usianya beragam, dari 18 tahun sampai 60 tahun. Jadi dari milenial sampai lansia,” tuturnya.

Melalui Rumah BUMN BRI Padang Panjang, Rita juga mendapatkan kesempatan mengikuti pameran skala nasional, termasuk BRI UMKM EXPO(RT) 2025 di BSD, Tangerang.

Selain itu, BRI membantu penyusunan e-katalog produk guna memperluas jangkauan pemasaran digital.

Hasilnya, Batik Canting Asasi mulai menerima pesanan dari luar negeri, seperti Jepang, Singapura, Malaysia, dan Arab Saudi.

“Memang belum banyak, baru sekitar 5–10 potong. Tapi kami bangga karena produk bisa sampai ke sana tanpa perantara. Semua berkat promosi media sosial dan dukungan dari BRI,” ungkap Rita.

Pada kesempatan terpisah, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menyampaikan bahwa Rumah BUMN BRI hadir sebagai wadah kolaboratif untuk meningkatkan kapasitas UMKM agar mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif.

Hingga kini, BRI telah membina 54 Rumah BUMN dan menyelenggarakan lebih dari 17 ribu pelatihan UMKM di berbagai daerah.

Program tersebut menjadi bagian dari komitmen BRI dalam mendorong ekonomi inklusif dan berkelanjutan. (*)

Editor : Hengky Ristanto
#Batik Padang Panjang #rumah BUMN #UMKM Binaan BRI #UMKM Go Global #bri #Batik Canting Asasi