Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Rupiah Masih Bergerak Sideways, Ekonom Menilai BI Perlu Menahan Suku Bunga demi Menjaga Stabilitas Ekonomi

Sukma Maharani Putri • Jumat, 19 Desember 2025 | 17:33 WIB
Rupiah kembali tertekan ke Rp16.700 per dolar AS, dipicu penguatan dolar global dan belum pastinya arah kebijakan The Fed.
Rupiah kembali tertekan ke Rp16.700 per dolar AS, dipicu penguatan dolar global dan belum pastinya arah kebijakan The Fed.

Jawa Pos Radar Madiun — Pergerakan nilai tukar rupiah yang masih fluktuatif dan cenderung sideways membuat arah kebijakan moneter Bank Indonesia kembali menjadi sorotan. Sejumlah ekonom menilai Bank Indonesia (BI) sebaiknya menahan BI-Rate di level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Desember 2025 yang hasilnya akan diumumkan pada Rabu siang.

Ketidakpastian global dan potensi tekanan eksternal dinilai masih cukup besar, terutama terkait risiko arus modal keluar yang dapat kembali menekan nilai tukar rupiah.

Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menilai stabilitas nilai tukar tetap menjadi prioritas utama bank sentral di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya kondusif.

“Risiko capital outflow dan pelemahan rupiah masih cukup besar. BI akan tetap menjaga stabilitas nilai tukar di samping mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Andry Asmoro.

Fokus Stabilitas Rupiah

Pandangan senada disampaikan Ekonom LPEM FEB UI, Teuku Riefky. Ia menekankan bahwa Bank Indonesia perlu tetap fokus menjaga stabilitas rupiah dan melakukan intervensi bila diperlukan.

Teuku mencatat, sejak 19 November hingga 12 Desember, arus modal asing yang masuk ke Indonesia mencapai 0,75 miliar dolar AS. Kondisi ini turut menopang penguatan rupiah sebesar 0,11 persen secara month-to-month, sehingga berada di level Rp16.652 per dolar AS pada 15 Desember.

Meski demikian, secara year-to-date rupiah masih tercatat melemah sekitar 3,6 persen terhadap dolar AS. Namun, performa tersebut dinilai relatif lebih baik jika dibandingkan dengan sejumlah mata uang negara berkembang lainnya, seperti rupee India, lira Turki, dan peso Argentina.

Pergerakan rupiah yang masih belum stabil, ditambah inflasi domestik yang berada di batas atas target BI, membuat kebijakan menahan suku bunga dipandang sebagai langkah yang paling realistis saat ini.

Peluang Pemangkasan Masih Terbuka

Sementara itu, Ekonom Permata Bank, Faisal Rachman, melihat ruang penurunan BI-Rate sebenarnya masih terbuka. Peluang tersebut didukung oleh pemangkasan Fed Funds Rate serta surplus neraca perdagangan Indonesia.

Namun, Faisal menilai volatilitas pasar global dan risiko regional, termasuk perlambatan ekonomi Tiongkok, membuat investor cenderung berhati-hati. Kondisi ini menyebabkan pergerakan rupiah masih tertahan dalam tren sideways.

Menurutnya, Bank Indonesia kemungkinan besar akan memilih menahan suku bunga untuk sementara waktu. Meski begitu, peluang pemangkasan sebesar 25 basis poin menjadi 4,50 persen tetap terbuka apabila rupiah menunjukkan penguatan signifikan dan risiko stabilitas dapat dikelola dengan baik.

Kebijakan ini mencerminkan upaya BI menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi, sambil terus mencermati dinamika pasar global yang masih penuh ketidakpastian. (fin)

Editor : AA Arsyadani
#stabilitas ekonomi #bi rate #rupiah #kebijakan ekonomi