Jawa Pos Radar Madiun – Industri perbankan Indonesia dinilai tetap tangguh di tengah dinamika ekonomi global yang semakin kompleks.
Meski demikian, pelaku industri diminta memperkuat mitigasi risiko untuk menjaga stabilitas sistem keuangan.
Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional yang juga Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Hery Gunardi mengatakan fundamental industri perbankan nasional hingga awal 2026 masih berada pada level solid.
Hal itu tercermin dari pertumbuhan kredit per Januari 2026 yang mencapai 9,96 persen secara tahunan.
Angka tersebut meningkat dibandingkan capaian 2025 yang berada di kisaran 9,63 persen.
Pada periode yang sama, dana pihak ketiga (DPK) juga tumbuh 13,48 persen secara tahunan.
Sementara rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) masih terjaga di level 2,14 persen.
Ketahanan permodalan industri juga dinilai kuat dengan rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 25,87 persen.
’’Walaupun outlook industri perbankan secara umum masih cukup baik, kita tetap harus antisipatif terhadap berbagai potensi risiko ke depan,’’ ujarnya dalam forum CFO Perbanas bertema Driving Acceleration with Accountability di Jakarta, Jumat (6/3).
Menurut dia, ketegangan geopolitik global berpotensi memicu inflasi energi dan pangan serta menekan daya beli masyarakat.
Kondisi tersebut dapat berdampak pada sektor usaha dan meningkatkan potensi kredit bermasalah.
Karena itu, perbankan perlu lebih selektif dalam menyalurkan kredit sekaligus memperkuat manajemen risiko.
Sejumlah langkah mitigasi dinilai perlu dilakukan.
Di antaranya stress test sektoral pada portofolio kredit di sektor transportasi, logistik, dan manufaktur yang bergantung pada bahan bakar.
Selain itu, bank juga diminta mengembangkan sistem peringatan dini terhadap potensi kenaikan NPL serta menerapkan disiplin kredit dan risk-based pricing.
Deputi Komisioner Pengaturan, Perizinan dan Pengendalian Kualitas Otoritas Jasa Keuangan Deden Firman Hendarsyah menilai kondisi perbankan nasional masih cukup resilien.
’’Dari sisi permodalan perbankan memiliki bantalan yang kuat untuk menghadapi dinamika global,’’ ujarnya.
Ia menambahkan kondisi likuiditas perbankan juga masih memadai karena seluruh indikator utama berada di atas ambang batas minimal regulator. (her)
Editor : Hengky Ristanto