Jawa Pos Radar Madiun - Bagi Ifti, kain bukan sekadar lembaran tekstil biasa. Di tangan dingin pengusaha asal Depok ini, kain adalah penyimpan cerita, identitas, dan perjalanan budaya yang tak lekang oleh waktu.
Melalui bendera Pekatan Batik, Ifti mendedikasikan dirinya untuk melestarikan wastra Nusantara, mulai dari batik tulis, tenun Badui, hingga lurik ATBM.
Bangkit dari Terpaan Pandemi
Perjalanan Pekatan Batik yang berdiri pada November 2019 tidaklah mulus. Baru seumur jagung, bisnis ini dihantam pandemi COVID-19. Namun, kecintaan perempuan asal Pekalongan ini terhadap kain tradisional tak membuatnya menyerah.
Sempat vakum, Ifti kemudian merambah jalur penjualan daring (online). Dari sinilah, Pekatan perlahan bangkit. Ia mengusung misi besar: mengubah stigma bahwa batik hanya untuk acara formal atau orang tua.
Dengan desain ready-to-wear yang modern dan eksklusif, Ifti membuktikan wastra Nusantara bisa tampil modis untuk semua generasi.
Baca Juga: Jadwal Final Swiss Open 2026: Alwi Farhan dan Putri KW Bablas Juara?
Produksi Ramah Lingkungan dan Eksklusif
Satu hal yang unik dari Pekatan Batik adalah prinsip produksinya yang memaksimalkan setiap jengkal kain. Sisa potongan bahan tidak dibuang percuma, melainkan diolah kembali menjadi produk bernilai tinggi.
Strategi ini membuat setiap koleksi Pekatan hadir dalam jumlah terbatas sekaligus lebih ramah lingkungan.
Kualitas produknya pun tidak main-main. Koleksi Pekatan telah menjangkau pasar nasional hingga mancanegara, seperti Korea dan beberapa negara di Eropa. Tak jarang, produknya dijadikan suvenir resmi instansi untuk agenda internasional.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Hotel Bintang 4 di Solo untuk Staycation dan Urusan Bisnis
Pemberdayaan Bersama Rumah BUMN BRI
Loncatan besar bisnis Ifti terjadi saat ia bergabung dengan Rumah BUMN BRI Jakarta pada 2024.
Meski tidak memiliki latar belakang desainer, Ifti tak ragu untuk belajar melalui berbagai pelatihan fashion, manajemen keuangan, hingga business matching.
"Proses yang paling berdampak adalah expo dan pelatihan desain. Dari expo, saya bisa melihat produk yang diminati pasar. Dari pelatihan, saya belajar banyak karena dasar saya bukan desainer," ungkap Ifti.
Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menegaskan bahwa kehadiran Rumah BUMN BRI memang dirancang sebagai wadah kolaboratif. Hingga kini, BRI telah membina 54 Rumah BUMN dengan ribuan pelatihan untuk mendorong ekonomi inklusif di seluruh Indonesia. (*)
Editor : Mizan Ahsani