Jawa Pos Radar Madiun – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas dan memicu guncangan hebat pada pasar energi global. Upaya diplomasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan gagal mencapai titik temu, yang seketika memicu lonjakan harga minyak mentah dunia hingga menembus angka psikologis US$ 101 per barel pada Senin (13/4).
Baca Juga: Temui Vladimir Putin, Prabowo Subianto Pertegas Posisi Strategis Indonesia di Peta Geopolitik Dunia
Kegagalan negosiasi ini memupus harapan pasar akan adanya deeskalasi di Selat Hormuz, jalur logistik vital yang menopang sekitar 20 persen distribusi minyak global. Brent maupun West Texas Intermediate (WTI) kompak merangkak naik setelah kabar kebuntuan komunikasi antara kedua negara tersebut tersiar.
Sentimen negatif pasar diperparah oleh pernyataan JD Vance yang menyebutkan bahwa pembicaraan yang berlangsung tidak membuahkan kesepakatan berarti. Hal ini memicu kekhawatiran akan terjadinya gangguan pasokan jangka panjang, mengingat posisi Iran yang strategis dalam peta energi dunia.
Kenaikan harga minyak ke level tinggi ini tentu menjadi alarm bagi perekonomian global, termasuk Indonesia. Lonjakan biaya energi di pasar internasional diprediksi akan memberikan tekanan berat pada sektor industri dan anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.
Hingga berita ini diturunkan, pasar masih menunjukkan volatilitas tinggi. Para investor kini cenderung bersikap waspada sembari memantau langkah militer maupun kebijakan luar negeri terbaru yang akan diambil oleh Washington maupun Teheran dalam beberapa hari ke depan.(*)
*Muhammad Almaz Firza Sasongko, mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura.
Editor : Mizan AhsaniSumber : Radar Madiun