Jawa Pos Radar Madiun– Eskalasi konflik di Timur Tengah antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat (AS) mulai memberikan tekanan nyata pada stabilitas ekonomi global. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, membeberkan bahwa terdapat tiga jalur utama yang patut diwaspadai Indonesia, yakni jalur finansial, harga komoditas, serta sektor perdagangan dan produksi.
Dalam forum Central Banking Forum 2026 yang digelar di Jakarta pada Senin (14/4), Destry menyoroti bahwa jalur finansial menjadi salah satu yang paling krusial. Meski Iran dan Israel bukan merupakan pusat keuangan dunia (financial hub), keterlibatan AS memberikan dampak tidak langsung (indirect impact) yang sangat besar karena statusnya sebagai kiblat keuangan global.
Kondisi ini memicu fenomena risk off, di mana para investor cenderung menjauhi aset berisiko dan beralih ke aset aman atau safe haven. Akibatnya, terjadi pergeseran modal besar-besaran dari negara berkembang (emerging markets) menuju negara maju, terutama Amerika Serikat.
"Mau tidak mau aliran modal (flow) ke advanced economies termasuk ke AS meningkat, sehingga indeks dolar (DXY) mengalami penguatan. Sebaliknya, aliran ke emerging market, tidak hanya di Indonesia, justru berkurang," ungkap Destry.
Berdasarkan data BI, Indonesia turut merasakan imbas dari ketidakpastian ini. Meskipun instrumen seperti Surat Berharga Negara (SBN), saham, dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) masih mencatatkan beberapa aliran masuk, namun secara keseluruhan arus modal keluar (outflow) menembus angka Rp 21 triliun.
Selain sisi finansial, BI juga terus memantau pergerakan harga komoditas global dan kelancaran jalur perdagangan yang berpotensi mengganggu biaya produksi di dalam negeri. Pemerintah dan otoritas moneter kini tengah memperkuat sinergi untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah volatilitas nilai tukar yang kian menantang.
(*)
*Muhammad Almaz Firza Sasongko, mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura.
Editor : Mizan Ahsani