Jawa Pos Radar Madiun - Minat investor terhadap instrumen Surat Utang Negara (SUN) menunjukkan tren penguatan yang signifikan.
Pada lelang yang digelar Selasa (14/4), Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan berhasil menyerap dana senilai Rp42 triliun dari sembilan seri yang ditawarkan.
Antusiasme pasar terlihat dari total penawaran masuk (incoming bids) yang menembus angka Rp78,44 triliun.
Angka ini melonjak tajam dibandingkan lelang sebelumnya pada 31 Maret 2026 yang hanya mencatatkan penawaran sebesar Rp58,22 triliun.
Dominasi Seri FR0109 dan Tren Yield
Seri FR0109 (pembukaan kembali) sukses menjadi bintang pada lelang kali ini.
Seri dengan tenor menengah ini mencatatkan penawaran masuk tertinggi sebesar Rp44,44 triliun, di mana pemerintah memutuskan untuk memenangkan nominal sebesar Rp23,55 triliun.
Investor yang memenangkan seri FR0109 akan mendapatkan imbal hasil (yield) rata-rata tertimbang sebesar 6,27225 persen dengan masa jatuh tempo pada 15 Maret 2031.
Baca Juga: Mitos Pernikahan Jawa dan Sunda, Benarkah Tidak Boleh Bersatu? Simak Faktanya!
Rincian Serapan Berdasarkan Seri Terpopuler:
| Seri SUN | Nominal Dimenangkan | Yield Rata-rata | Jatuh Tempo |
| FR0109 | Rp23,55 Triliun | 6,27% | 15 Maret 2031 |
| FR0108 | Rp5,2 Triliun | 6,60% | 15 April 2036 |
| SPN12270401 | Rp4,7 Triliun | 5,50% | 1 April 2027 |
| FR0106 | Rp2,5 Triliun | 6,72% | 15 Agustus 2040 |
Pemerintah juga menyerap dana dari seri-seri jangka panjang untuk menjaga profil jatuh tempo utang yang sehat.
Beberapa seri jangka panjang yang diserap antara lain FR0107 (jatuh tempo 2045) senilai Rp1,75 triliun dan FR0105 (jatuh tempo 2064) sebesar Rp800 miliar dengan yield tertinggi di angka 6,84876 persen.
Di sisi lain, untuk kebutuhan pembiayaan jangka pendek, pemerintah menerbitkan seri baru yakni SPN01260516 dan SPN03260715.
Adapun masing-masing dimenangkan senilai Rp1 triliun dan Rp1,2 triliun dengan imbal hasil di kisaran 4,8% hingga 5,4%.
Tingginya angka penawaran masuk mencerminkan likuiditas pasar domestik yang masih melimpah serta kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Penurunan imbal hasil rata-rata pada beberapa seri tenor menengah memberikan sinyal positif bahwa beban bunga utang pemerintah dapat ditekan lebih efisien di tengah dinamika ekonomi global 2026. (naz)
Editor : Mizan Ahsani