Jawa Pos Radar Madiun - Tahun 2026 belum benar-benar membuka lembaran baru yang cerah bagi ekonomi Indonesia.
Awan ketidakpastian masih menggantung, terasa lebih nyata dalam keseharian masyarakat melalui harga-harga yang merangkak naik dan lapangan kerja yang belum pulih sepenuhnya.
Survei Ahli Ekonomi Semester I 2026 yang dirilis oleh LPEM FEB UI memberikan gambaran yang tidak bisa diabaikan.
Sebanyak 85 ekonom menilai kondisi ekonomi nasional berada dalam situasi memburuk atau stagnan. Penilaian ini merupakan refleksi dari tekanan nyata pada sejumlah indikator makro.
Ancaman Inflasi dan Melemahnya Daya Beli
Ekspektasi inflasi yang meningkat secara signifikan menjadi sinyal bahaya bagi konsumsi domestik. Ketika harga barang melonjak, daya beli masyarakat tergerus.
Baca Juga: Redakan Flu dari Dalam, Ini Manfaat Sup Ayam dan Hidrasi untuk Atasi Hidung Mampet
Dalam ekonomi yang bergantung pada konsumsi rumah tangga, tekanan ini berdampak pada penurunan permintaan yang berujung pada perlambatan produksi.
Sentimen Global dan Rupiah Rp 17.000
Tekanan tidak hanya datang dari dalam negeri. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu fluktuasi harga energi global yang meningkatkan biaya produksi.
Kondisi ini diperparah dengan nilai tukar Rupiah yang telah menembus angka Rp 17.000 per dolar AS.
Lembaga pemeringkat internasional seperti Fitch Ratings dan Moody’s bahkan telah merevisi outlook sovereign Indonesia menjadi negatif.
Hal ini mencerminkan kekhawatiran global terhadap ketidakpastian kebijakan dan meningkatnya risiko ekonomi-politik di tanah air. (naz)
Editor : Mizan Ahsani