Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Wamenkeu Klaim Status Investment Grade Indonesia Lebih Unggul di Antara Negara Lain, Kok Bisa?

Dony Christiandi • Kamis, 23 April 2026 | 14:06 WIB
PENANAMAN MODAL ASING: Kondisi terkini bangunan pabrik PT Sintec di Desa Kandangan, Kabupaten Ngawi. ASEP SYAEFUL/RADAR NGAWI
PENANAMAN MODAL ASING: Kondisi terkini bangunan pabrik PT Sintec di Desa Kandangan, Kabupaten Ngawi. ASEP SYAEFUL/RADAR NGAWI

Jawa Pos Radar Madiun - Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menegaskan bahwa status investment grade Indonesia tetap berada dalam posisi aman meskipun saat ini tengah menghadapi peningkatan tekanan geopolitik global. 

Ketidakpastian di pasar keuangan dunia yang dipicu oleh kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah tidak menggoyahkan keyakinan pemerintah terhadap ketahanan ekonomi nasional.

Keyakinan terhadap status investment grade ini didasarkan pada pertumbuhan ekonomi domestik yang tetap kuat dan terjaganya stabilitas makroekonomi dibandingkan dengan negara-negara sekelas lainnya.

Posisi fiskal yang kokoh serta bantalan eksternal yang solid menjadi penopang utama dalam menjaga kepercayaan investor global terhadap kredibilitas utang Indonesia.

Juda Agung menyampaikan bahwa kondisi fundamental yang ada saat ini menempatkan Indonesia pada posisi makroekonomi yang lebih seimbang untuk mempertahankan status investment grade.

“Dibandingkan negara-negara sekelas, Indonesia tumbuh lebih kuat dengan tetap menjaga stabilitas makroekonomi, ditopang oleh inflasi yang rendah, posisi fiskal yang kuat, serta bantalan eksternal yang solid," ujar Juda Agung.

Meskipun Fitch Ratings per Maret 2026 menetapkan peringkat utang Indonesia di level BBB dengan outlook negatif, pemerintah berkomitmen merespons kekhawatiran lembaga pemeringkat tersebut secara aktif.

Baca Juga: Targetkan Pertumbuhan Kredit 7-9 Persen, BRI Optimistis Perkuat Segmen UMKM di Tahun 2026

Disiplin fiskal selama bertahun-tahun diklaim telah membuahkan hasil nyata, di mana defisit anggaran tetap terjaga di bawah angka 3 persen.

Rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga dilaporkan masih berada di kisaran 40 persen, angka yang dinilai jauh di bawah ambang batas aman sebesar 60 persen.

Sementara itu, tingkat inflasi nasional tetap terkendali dalam kisaran sasaran melalui pengelolaan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang stabil di tengah fluktuasi harga energi dunia.

Pemerintah menyadari adanya tantangan dari pengetatan keuangan global dan perubahan sentimen pasar yang terjadi secara cepat.

“Fitch Ratings baru-baru ini menyoroti sejumlah kekhawatiran yang valid. Saya dapat memastikan kami menangani kekhawatiran tersebut secara langsung. Peringkat Fitch kami tetap berada pada level investment grade yang merupakan hasil dari disiplin selama bertahun-tahun dalam berbagai aspek,” tambahnya.

Melalui konsistensi kebijakan dan transparansi data, pemerintah bekerja aktif untuk membangun struktur ekonomi yang lebih tangguh dan adaptif.

Cadangan anggaran yang memadai dipastikan akan terus menjadi bantalan kuat dalam menghadapi dinamika ekonomi global yang dinamis demi menjaga kesejahteraan masyarakat. (naz)

Editor : Mizan Ahsani
#rasio utang #wamenkeu #indonesia #peringkat #investasi