Jawa Pos Radar Madiun - Pasar valuta asing domestik dibayangi awan mendung pada awal pekan ini. Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berpotensi melemah sepanjang hari Senin (27/4).
Penyebab utamanya adalah kebuntuan dalam putaran kedua negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.
Kegagalan mencapai titik temu ini langsung memberikan efek berantai pada pasar komoditas dan mata uang global.
“Rupiah diperkirakan melemah seiring gagalnya negosiasi perdamaian AS–Iran, yang mendorong kenaikan harga minyak mentah dan menguatkan dolar AS,” ujar Lukman Leong di Jakarta, Senin pagi.
Kondisi geopolitik memanas setelah Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan masuk ke meja perundingan jika masih dibayangi ancaman, sanksi, atau blokade.
Iran menuntut penghentian sikap bermusuhan dan jaminan keamanan sebagai prasyarat dialog yang efektif.
Baca Juga: Sosok Hakim di Pucuk Organisasi Daycare Maut Little Aresha, Sahroni: KY dan MA Harus Segera Pecat
Laporan menyebutkan delegasi Iran telah meninggalkan lokasi pertemuan di Pakistan sebelum utusan khusus AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, tiba pada Sabtu (25/4). Ketidakpastian ini memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global.
Selain faktor global, rupiah juga menghadapi tantangan dari dalam negeri:
1. Defisit Anggaran: Kondisi fiskal domestik masih menjadi sentimen lemah bagi investor.
2. Suku Bunga: Bank Indonesia (BI) hingga saat ini belum memberikan sinyal kuat untuk menaikkan suku bunga acuan.
Meski demikian, terdapat angin segar bagi pelaku pasar. BI menyatakan akan meningkatkan intensitas intervensi pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar agar tidak merosot terlalu dalam.
Berdasarkan pembukaan perdagangan Senin pagi, rupiah sebenarnya sempat menguat tipis 18 poin atau 0,10 persen ke level Rp17.211 per dolar AS. Namun, Lukman memprediksi pergerakan kurs akan cenderung tertekan dan bergerak di kisaran Rp17.100 hingga Rp17.200 per dolar AS sepanjang hari ini. (naz)
Editor : Mizan Ahsani