Jawa Pos Radar Madiun - Di tengah fluktuasi nilai tukar yang semakin tajam, mata pelaku pasar kini tertuju pada kebijakan Bank Indonesia (BI).
Bank sentral dikabarkan tengah menyiapkan langkah mitigasi strategis untuk membentengi nilai tukar rupiah yang kini berada di kisaran psikologis baru, yakni Rp17.200 per dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengungkapkan bahwa meskipun sentimen global sedang sangat tidak bersahabat, BI berkomitmen untuk tidak membiarkan rupiah liar di pasar.
Baca Juga: Prediksi Kurs Rupiah Senin: Harga Minyak Naik, Analis Proyeksikan Rupiah di Level Rp 17.200
Intervensi Intensif di Tengah Sentimen Negatif
Gagalnya putaran kedua negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran telah memicu lonjakan harga minyak mentah dan penguatan dolar AS secara global.
Kondisi ini diperparah oleh tekanan domestik terkait defisit anggaran. Namun, Lukman mencatat adanya komitmen kuat dari bank sentral.
“Seperti yang disampaikan sebelumnya, Bank Indonesia akan meningkatkan intensitas intervensi untuk mendukung stabilitas rupiah,” ujar Lukman di Jakarta, Senin (27/4).
Langkah intervensi ini dianggap krusial mengingat BI hingga saat ini belum memberikan sinyal kuat untuk menaikkan suku bunga acuan (BI Rate).
Intervensi langsung ke pasar valas menjadi senjata utama pemerintah untuk menjaga kepercayaan investor di tengah ketidakpastian geopolitik Timur Tengah.
Baca Juga: Sosok Hakim di Pucuk Organisasi Daycare Maut Little Aresha, Sahroni: KY dan MA Harus Segera Pecat
Stabilitas di Level Rp17.200
Pada perdagangan Senin pagi, rupiah sebenarnya sempat menunjukkan perlawanan dengan menguat tipis 18 poin atau 0,10 persen ke level Rp17.211 per dolar AS.
Namun, penguatan ini dinilai masih rapuh karena faktor eksternal yang sangat dominan.
BI diprediksi akan bekerja ekstra keras menjaga rupiah agar tetap berada di zona stabil, dengan proyeksi pergerakan harian di kisaran Rp17.100 hingga Rp17.200 per dolar AS.
Keseriusan BI dalam mengintervensi pasar menjadi sangat penting karena penyelesaian perselisihan AS-Iran tampak masih jauh dari kata sepakat.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, secara tegas menolak berunding di bawah tekanan sanksi dan blokade, yang berarti potensi kenaikan harga energi dunia masih akan terus membayangi ekonomi nasional.
Melalui peningkatan intensitas intervensi ini, BI berharap dapat memberikan bantalan bagi ekonomi domestik agar tidak terperosok lebih dalam akibat lonjakan biaya impor energi yang dipicu oleh pelemahan nilai tukar. (naz)
Editor : Mizan Ahsani