Jawa Pos Radar Madiun - Stabilitas makroekonomi Indonesia tengah menghadapi ujian berat dari dua sisi sekaligus yaitu lonjakan harga energi dan tekanan nilai tukar.
Kurs rupiah sempat menyentuh rekor terlemahnya di kisaran Rp17.315 per dolar AS, sementara harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan Dex Series telah disesuaikan naik sejak 18 April lalu.
Equity Analyst IPOT, Brigita Kinari, menjelaskan bahwa kenaikan harga BBM merupakan respons terhadap harga energi global yang tinggi demi menjaga kredibilitas fiskal.
Namun, pasar kini mulai mengantisipasi dampak lanjutannya.
"Pasar mulai menghitung risiko inflasi jangka pendek pada sektor transportasi dan logistik yang berpotensi menekan daya beli masyarakat serta margin perusahaan konsumsi," ungkapnya.
Baca Juga: IHSG Hari Ini: Dibuka Menguat ke 7.158, Waspadai Potensi Longsor ke Level Psikologis 6.900!
Menanggapi tekanan rupiah, Bank Indonesia (BI) melalui Rapat Dewan Gubernur (22-23 April 2026) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen.
Langkah ini diiringi dengan intervensi masif di pasar valuta asing dan optimalisasi instrumen moneter guna meredam volatilitas yang berisiko meningkatkan imported inflation.
Di level global, ketidakpastian semakin meruncing seiring belum tercapainya kesepakatan negosiasi antara AS dan Iran.
Kondisi ini membuat investor cenderung beralih ke aset aman (safe haven) seperti dolar AS.
Sikap otoritas domestik yang cenderung defensif dan pre-emptive diharapkan mampu menahan arus keluar modal asing dari pasar obligasi di tengah kebijakan The Fed yang diprediksi akan tetap hawkish. (naz)
Editor : Mizan Ahsani