Menurut analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, pelemahan ini dipicu oleh sikap pasar yang menghindari risiko (risk-off).
"Pasar bereaksi terhadap ketidakpastian perdamaian di Timur Tengah," ungkap Lukman.
"Indeks dolar AS dan harga minyak mentah dunia kembali naik karena laporan bahwa AS kemungkinan tidak menerima usulan damai terbaru dari Iran," sambungnya.
Poin Kendala Negosiasi AS-Iran
Kondisi ini diperparah dengan sikap skeptis Presiden AS Donald Trump terhadap proposal Iran. Beberapa poin krusial yang menjadi penghambat antara lain:
-
Selat Hormuz: Iran mengusulkan pembukaan jalur air penting tersebut sebagai imbalan pencabutan blokade pelabuhan oleh AS.
-
Isu Nuklir: Trump bersikeras agar Iran menghentikan semua pengayaan uranium, sementara Teheran menolak menyerahkan uranium yang telah mereka perkaya.
-
Pembatalan Utusan: Ketegangan meningkat setelah Trump membatalkan rencana pengiriman utusan khusus, Steve Witkoff dan Jared Kushner, ke Pakistan untuk pembicaraan lanjutan.
Prediksi Kurs Rupiah
Berdasarkan fluktuasi yang dipicu oleh faktor geopolitik dan kenaikan harga minyak dunia, nilai tukar rupiah hari ini diprediksi akan bergerak dalam rentang Rp17.150 hingga Rp17.300 per dolar AS.
Gagalnya pembicaraan di Islamabad pada 11 April lalu membuat pelaku pasar meragukan masa depan gencatan senjata yang sempat dimediasi oleh Pakistan.
Akibatnya, dolar AS kembali menjadi aset safe haven yang dicari, sehingga menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah. (naz)
Editor : Mizan Ahsani