Jawa Pos Radar Madiun - Bank Indonesia (BI) mengungkap masih besarnya ruang pembiayaan di berbagai sektor ekonomi yang belum dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku usaha.
Kondisi ini terlihat dari tingginya nilai fasilitas kredit yang sudah disetujui perbankan, namun belum dicairkan oleh debitur.
Dalam sesi policy dialogue pada Kick Off Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI) di Jakarta, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyebut fenomena ini tercermin dari tingginya rasio undisbursed loan.
Rp2.527 Triliun Kredit Masih Belum Dipakai
Berdasarkan data Bank Indonesia, total fasilitas kredit yang belum dimanfaatkan mencapai Rp2.527,46 triliun atau sekitar 22,59 persen dari total plafon kredit yang tersedia di perbankan.
Secara definisi, undisbursed loan merupakan fasilitas pinjaman yang sudah disetujui bank tetapi belum dicairkan atau digunakan oleh debitur.
Kondisi ini menunjukkan bahwa ruang pembiayaan di sistem perbankan masih sangat terbuka.
Sektor dengan Potensi Pembiayaan Terbesar
Beberapa sektor tercatat memiliki rasio kredit belum terserap yang cukup tinggi dibandingkan rata-rata. Sektor tersebut antara lain pertanian, jasa dunia usaha, konstruksi, serta transportasi dan pengangkutan.
Menurut BI, kondisi ini menunjukkan masih adanya peluang besar bagi sektor-sektor tersebut untuk mendapatkan tambahan pembiayaan dari perbankan guna mendukung aktivitas usaha dan pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga: Pemerintah Serap Rp40 Triliun dari Lelang SUN, Ini Rincian 9 Seri Obligasinya
Dorongan Percepatan Intermediasi Perbankan
BI menilai pentingnya mempertemukan kebutuhan pembiayaan dari dunia usaha dengan kapasitas pendanaan perbankan.
Melalui program PINISI, upaya percepatan intermediasi ini diharapkan dapat memperkuat penyaluran kredit ke sektor riil.
Meski pertumbuhan kredit per Maret 2026 berada di kisaran 9,5 persen, penyaluran tersebut masih didominasi oleh bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
Karena itu, BI mendorong peran lebih besar dari bank swasta dan bank asing.
Tantangan Penyaluran Kredit
Salah satu hambatan yang masih terjadi adalah asimetri informasi terkait kelayakan proyek. Kondisi ini membuat perbankan lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit ke sektor tertentu.
Melalui PINISI, BI berharap proses intermediasi dapat berjalan lebih efektif dengan meningkatkan kesiapan proyek, memperbaiki kelayakan pembiayaan, serta mempercepat realisasi kredit.
Masih besarnya dana kredit yang belum terserap menunjukkan adanya peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Sinergi antara perbankan dan dunia usaha, potensi pembiayaan ini diharapkan dapat lebih optimal dimanfaatkan. (naz)
Editor : Mizan Ahsani