Jawa Pos Radar Madiun - Nilai tukar rupiah kembali melemah pada perdagangan hari ini di tengah meningkatnya tekanan eksternal dari pasar global.
Pergerakan ini terjadi seiring menguatnya dolar Amerika Serikat dan meningkatnya permintaan aset aman atau safe haven akibat ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Nilai tukar rupiah tercatat melemah 83 poin atau 0,48 persen menjadi Rp17.326 per dolar AS dari posisi sebelumnya di Rp17.243 per dolar AS.
Tekanan ini juga tercermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia yang turut melemah ke Rp17.324 per dolar AS.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Indonesia Commodity & Derivatives Exchange, Muhammad Amru Syifa, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi oleh kuatnya dolar AS dan meningkatnya ketegangan geopolitik global.
“Dari sisi global, rupiah tertekan oleh stabilnya indeks dolar AS di level tinggi (sekitar 98,6) serta meningkatnya permintaan safe haven di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah,” ujarnya di Jakarta, Rabu.
Menurutnya, kekhawatiran terhadap inflasi global akibat kenaikan harga energi turut mendorong arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Situasi ini membuat mata uang emerging markets berada dalam tekanan yang cukup konsisten.
Selain itu, ekspektasi bahwa Federal Reserve Amerika Serikat akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama juga menjadi faktor tambahan yang menahan penguatan rupiah.
Ketidakpastian arah kebijakan bank sentral AS bahkan disebut semakin meningkat seiring isu pergantian pimpinan The Fed.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Ungkap Strategi Pajak 2026: Bukan Naikkan Tarif, tapi Perbaiki Kepatuhan
Amru menambahkan bahwa jika kebijakan ke depan cenderung hawkish, maka dolar AS berpotensi semakin menguat. Sebaliknya, jika lebih dovish, peluang stabilisasi rupiah akan terbuka lebih besar.
Dari sisi domestik, kondisi ekonomi Indonesia dinilai masih relatif stabil. Inflasi berada dalam kisaran target dan kebijakan suku bunga Bank Indonesia di level 4,75 persen dinilai cukup untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Namun demikian, tekanan eksternal tetap menjadi faktor dominan yang membatasi ruang penguatan rupiah.
Bank Indonesia sendiri terus melakukan langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar spot serta transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
Strategi ini digunakan untuk menjaga ekspektasi pasar tanpa memberikan tekanan berlebihan pada cadangan devisa.
Menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting seperti inflasi April dan neraca perdagangan Maret, pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati.
Data sebelumnya menunjukkan inflasi Maret melambat, sementara surplus perdagangan juga berada di bawah ekspektasi akibat meningkatnya impor.
Secara keseluruhan, pergerakan rupiah saat ini masih sangat dipengaruhi dinamika global, terutama arah kebijakan suku bunga AS dan perkembangan geopolitik internasional, sementara faktor domestik berperan sebagai penahan agar tekanan tidak semakin dalam. (naz)
Editor : Mizan Ahsani