Jawa Pos Radar Madiun - Selama berabad-abad, emas selalu mendominasi tahta sebagai simbol kemapanan dan lindung nilai (safe haven).
Sementara itu, perak sering dipandang sebelah mata dan kerap dijuluki sebagai "emas orang miskin" atau sekadar bahan baku perhiasan kelas dua.
Namun, di era peradaban digital saat ini, narasi tersebut berubah drastis.
Perak bertransformasi menjadi logam mulia dengan "dua nyawa" yang sangat vital bagi industri teknologi masa depan.
Baca Juga: IHSG Ambruk 2,59 Persen Usai Libur Panjang, Efek Ganda MSCI-FTSE dan Saham Prajogo Jadi Biang Kerok
Bukan Sekadar Perhiasan, Tapi Jantung Teknologi
Berbeda dengan emas yang mayoritas hanya disimpan secara pasif di brankas bank sentral, perak bekerja keras di lapangan.
Mengutip analisis kreator konten ekonomi Ferry Irwandi, perak adalah konduktor listrik terbaik di dunia, bahkan mengungguli tembaga.
Perak secara fisik dipasang dan menjadi bahan baku mutlak pada berbagai perangkat teknologi esensial masa kini.
"Jika Anda memegang smartphone, menggunakan jaringan 5G, atau melihat panel surya di atap rumah, Anda sebenarnya sedang melihat perak bekerja," tulis analisis Bisnisia.
Logam putih ini digunakan secara masif dalam bentuk silver paste untuk pembuatan panel surya, komponen kendaraan listrik (EV), cip elektronik, server Artificial Intelligence (AI), hingga perangkat medis canggih.
Tanpa perak, transisi energi rendah karbon dan digitalisasi massal hampir mustahil diwujudkan.
Defisit Pasokan Global dan Harga yang Liar
Tingginya ketergantungan industri modern terhadap perak memicu krisis pasokan global.
Laporan terbaru dari Silver Institute memperkirakan bahwa pada tahun 2026, pasar perak dunia akan mengalami defisit (kekurangan pasokan) selama enam tahun berturut-turut.
Permintaan investasi fisik dan industri diprediksi melonjak hingga 20 persen (sekitar 220 juta ons), sedangkan produksi tambang hanya mampu tumbuh 1,5 persen (sekitar 1,06 miliar ons).
"Untuk meningkatkan produksi tambang dibutuhkan eksplorasi, izin, modal besar, dan waktu bertahun-tahun.
Produksi tidak bisa langsung mengejar permintaan," jelas Ferry Irwandi.
Kesenjangan sebesar 67 juta ons inilah yang membuat harga perak bergerak sangat liar.
Ferry mengibaratkan karakter perak saat ini seperti "logam mulia yang dicampur dengan karakter saham teknologi" punya narasi masa depan yang kuat, potensi keuntungan sangat besar, namun dengan volatilitas risiko yang tajam.
Baca Juga: Rupiah Sentuh Rp 17 Ribu, Komisi XI DPR Sentil BI: Hormati Kesepakatan Asumsi di Level Rp 16.500!
Obsesi Strategis China sebagai Sang Pengendali
Fakta menarik lainnya adalah bagaimana dominasi China di balik gejolak harga perak.
Meskipun penghasil tambang perak terbesar dunia masih dipegang oleh Meksiko dan Peru, China bertindak sebagai "pompa pengisap" utama yang mengendalikan rantai pasok global.
Bagi China, perak bukan sekadar nostalgia masa lalu di era Dinasti Ming.
Logam ini adalah kunci ambisi strategis (input strategis) mereka untuk merajai industri masa depan.
Sebagai raja manufaktur panel surya dan kendaraan listrik, China secara agresif menyerap dan mengolah pasokan perak dari seluruh penjuru dunia.
Bagi mereka, mengamankan pasokan perak sama artinya dengan mengamankan posisi geopolitik dan hegemoni teknologi China di panggung global.
Dengan segala kompleksitas dan potensinya, investasi perak tak lagi bisa dipandang sebelah mata.
Selama peradaban manusia masih bergerak menuju elektrifikasi, digitalisasi, dan energi hijau, perak akan tetap menjadi aset strategis yang menentukan arah masa depan.(*)
*Sayiddil Akbar, Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura