Jawa Pos Radar Madiun - Pergerakan nilai tukar mata uang garuda kembali menunjukkan tren koreksi yang cukup dalam. Berdasarkan data perdagangan interbank terbaru, 1 US Dollar kini setara dengan Rp 17.710,00. Angka ini menegaskan posisi rupiah yang kian tertekan oleh keperkasaan mata uang Negeri Paman Sam di tengah dinamika pasar keuangan global yang sedang bergejolak.
Baca Juga: Rupiah Hari Ini Tembus Rp 17.629 per Dolar: Apa Dampaknya bagi Perekonomian dalam Negeri?
Fenomena Perfect Storm Finansial
Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level psikologis baru ini dinilai para analis sebagai dampak akumulasi tekanan global dan domestik yang terjadi secara simultan, atau dikenal dengan istilah perfect storm. Faktor eksternal dipicu kuat oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta tingginya harga minyak mentah dunia. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran investor global dan mendorong penguatan indeks dollar AS (Dollar Index/DXY) sebagai aset aman (safe haven).
Selain itu, tingginya tingkat suku bunga Bank Sentral AS (The Fed) membuat para pemilik modal cenderung menarik dana mereka dari negara berkembang (capital outflow) dan memindahkannya ke aset finansial yang memberikan imbal hasil lebih kompetitif di Amerika Serikat.
Tekanan Musiman Dalam Negeri
Dari sisi domestik, pelemahan ini juga diperparah oleh pola musiman yang biasa terjadi di pertengahan tahun. Meningkatnya permintaan dollar AS di pasar domestik dipengaruhi oleh kebutuhan korporasi untuk pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo serta pembagian dividen kepada pemegang saham asing.
Baca Juga: Bitcoin Anjlok dan Kurs Rupiah Melemah, Efek Kebijakan Tarif Donald Trump Bakal Semakin Runyam?
Sentimen pasar juga diwarnai perhatian investor terhadap kemampuan fiskal Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam menahan gejolak harga energi global. Menanggapi kondisi ini, pemerintah melalui Kementerian Keuangan menyatakan siap bersinergi dengan Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai skema intervensi pasar, termasuk pemanfaatan dana stabilitas obligasi.(*)
* Muhammad Almaz Firza Sasongko, mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura.
Editor : Mizan Ahsani