Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Suku Bunga BI Rate Naik Jadi 5,25 Persen, Nilai Tukar Rupiah Langsung Menguat ke Rp 17.600 per Dolar AS

Mizan Ahsani • Kamis, 21 Mei 2026 | 09:44 WIB
Ilustrasi Uang Kertas Rupiah dan Dolar Amerika (katadata.co.id)
Ilustrasi Uang Kertas Rupiah dan Dolar Amerika (katadata.co.id)

Jawa Pos Radar Madiun – Nilai tukar rupiah bergerak positif dan langsung menguat ke level Rp 17.600 per dolar AS. Pergerakan impresif mata uang garuda ini terjadi tepat setelah Bank Indonesia (BI) mengumumkan kenaikan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) hingga menjadi 5,25 persen.

Berdasarkan data dari Bloomberg, kurs rupiah tercatat menguat 0,48 persen ke level Rp 17.620 per dolar AS hingga pukul 14.40 WIB. Padahal, pada pembukaan perdagangan, mata uang domestik sempat dibuka melemah 33 poin ke posisi Rp 17.738 per dolar AS, bahkan menyentuh titik terlemahnya di level Rp 17.748 per dolar AS sebelum adanya pengumuman resmi dari bank sentral.

Baca Juga: Kurs Dollar AS Tembus Rp 17.710, Rupiah Kian Tertekan Gejolak Ekonomi Global

Apresiasi mata uang ini nyatanya tidak hanya dialami Indonesia. Mayoritas mata uang di kawasan Asia juga terpantau menguat terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia tercatat menguat 0,11 persen, yuan Cina 0,14 persen, won Korea Selatan 0,09 persen, peso Filipina 0,05 persen, yen Jepang 0,04 persen, dan baht Thailand ikut menguat tipis 0,03 persen.

Langkah berani menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps menjadi 5,25 persen ini diputuskan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang berlangsung pada 19-20 Mei 2026. Kebijakan moneter tersebut diambil sebagai respons cepat setelah nilai tukar rupiah terus tertekan hingga menembus ke atas level Rp 17.700 per dolar AS.

Bersamaan dengan itu, suku bunga deposit facility ditetapkan tetap sebesar 4,25 persen dan lending facility pada level 6 persen.

"Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah, serta langkah preemptive menjaga inflasi pada 2026 dan 2027 sesuai sasaran," terang Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dalam konferensi pers pada Rabu (20/5).

Bank sentral mencatat bahwa pada 19 Mei lalu, rupiah sempat bertengger di level Rp 17.700 per dolar AS atau melemah sebesar 2,2 persen jika dibandingkan pada akhir April 2026.

Baca Juga: Kota Busan Bersiap Jadi Surga ARMY, BTS Siapkan Acara Besar

 Kendati demikian, BI optimistis ke depan nilai tukar rupiah akan bergerak stabil dan cenderung menguat didukung oleh komitmen kuat bank sentral, imbal hasil investasi yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi nasional yang tetap terjaga baik.

Lebih lanjut, Perry memaparkan adanya potensi tekanan inflasi yang berasal dari luar negeri (imported inflation) seiring dengan pelemahan nilai tukar.

Ditambah lagi dengan harga energi nonsubsidi yang berisiko merangkak naik akibat gejolak harga minyak mentah dunia.

 Meski ada tantangan tersebut, BI memastikan komitmen penuh untuk menjaga inflasi domestik tetap berada di jangkar sasaran 2,5 persen untuk tahun ini dan tahun depan.

Kebijakan pengetatan moneter oleh BI ini juga sejalan dengan arah kebijakan bank sentral global lainnya. Perry memperkirakan inflasi dunia tahun ini berpotensi merosot ke level 4,3 persen dengan pertumbuhan ekonomi global yang melambat di angka 3 persen.

Baca Juga: Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.123: Harapan Damai AS-Iran Tekan Harga Minyak Dunia

“Respons kebijakan moneter global menjadi lebih ketat, bahkan sejumlah bank sentral mulai menaikkan suku bunga kebijakannya,” tambahnya.

BI bahkan memproyeksikan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed) tidak akan mengalami penurunan hingga pengujung tahun 2026. "Bahkan berpotensi kembali naik pada 2027 seiring tingginya angka inflasi di negara tersebut," pungkas Perry

(*)

* Muhammad Almaz Firza Sasongko, mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura.

 

 

Editor : Mizan Ahsani
#ekonomi indonesia 2026 #kenaikan suku bunga #Bank Indinesia #rupiah menguat