Jawa Pos Radar Madiun - Menyimpan emas bertahun-tahun, lalu pulang dengan raut wajah kecewa setelah menjualnya di toko.
Pernahkah Anda mengalaminya?
Sering kali, masyarakat kaget saat mendapati harga jual kembali (buyback) emas jauh lebih rendah dibandingkan harga saat pertama kali membelinya.
Jangan keburu berprasangka buruk kepada pihak toko, karena selisih angka ini sebenarnya adalah hal yang wajar dalam mekanisme pasar dan berlaku di seluruh platform perdagangan emas.
Banyak investor pemula yang hanya fokus pada harga beli tanpa memperhitungkan harga jual.
Padahal, memahami alasan di balik menyusutnya nilai tukar emas ini sangat penting agar Anda tidak salah langkah dalam berinvestasi.
Baca Juga: Insentif Mobil Listrik Mulai Juni, Pengamat Beberkan Dampaknya terhadap Industri Baterai Nasional
Mengenal Konsep Spread dalam Investasi Emas
Faktor utama yang menyebabkan harga buyback lebih murah adalah adanya spread.
Secara sederhana, spread adalah selisih antara harga beli dan harga jual yang ditetapkan oleh penjual pada waktu yang bersamaan.
Mengapa toko harus memotong selisih ini? Penjual tidak semata-mata mencari untung berlebih.
Selisih harga tersebut digunakan untuk menutup berbagai biaya operasional dan risiko bisnis, di antaranya:
Biaya Operasional
Mencakup gaji karyawan, biaya sewa tempat, distribusi, hingga keamanan penyimpanan emas.
Biaya Pemurnian Ulang
Emas yang dikembalikan sering kali harus melalui proses pembersihan atau dilebur ulang agar kondisinya kembali seperti baru.
Antisipasi Fluktuasi Pasar
Harga emas dunia sangat fluktuatif karena dipengaruhi nilai tukar dolar AS dan situasi ekonomi global. Selisih harga ini berfungsi sebagai "bantalan" agar toko tidak rugi jika harga pasar mendadak anjlok.
Baca Juga: BRI dan Unsoed Resmi Mulai Program Desa BRILiaN 2026
Kondisi Fisik dan Jenis Emas Sangat Berpengaruh
Faktor lain yang sering luput dari perhatian adalah kondisi fisik emas itu sendiri, terutama pada emas perhiasan.
Emas perhiasan yang dipakai sehari-hari sangat rentan mengalami penurunan kualitas.
Gesekan, benturan, hingga paparan bahan kimia dari sabun dan parfum bisa membuat permukaan emas aus sehingga bobot gramnya menyusut tanpa Anda sadari.
Emas yang tergores, ternoda, atau kehilangan sertifikat resminya otomatis akan dihargai lebih rendah karena toko harus menanggung ongkos perbaikan.
Hal ini membuat emas batangan bersertifikat (Logam Mulia) selalu memiliki nilai buyback yang lebih stabil dibandingkan perhiasan.
Baca Juga: Pemerintah Perkuat Pembiayaan UMKM, BRI Salurkan KUR Rp 65,95 Triliun
Cara Menghitung Spread Emas
Memahami dan menghitung spread adalah langkah krusial sebelum memutuskan untuk bertransaksi. Berikut adalah ilustrasi perhitungannya:
| Komponen Transaksi | Nominal Harga per Gram |
| Harga Beli | Rp 1.500.000 |
| Harga Buyback | Rp 1.440.000 |
| Nilai Spread | Rp 60.000 |
Untuk mengetahui seberapa besar persentase potongan biaya tersembunyi yang Anda tanggung, gunakan rumus persentase spread berikut ini:
Dengan memasukkan angka dari tabel di atas, maka persentase spread-nya adalah:
Persentase Spread = 60.000/1.500.000 X 100% = 4%
Artinya, Anda menanggung biaya selisih sebesar 4% dari harga beli. Jika Anda sering melakukan jual-beli emas dalam jangka waktu pendek, potongan 4% ini akan sangat merugikan.
Baca Juga: BRI Consumer Expo 2026, Ada Promo KPR, Mobil hingga Travel Fair
Itulah sebabnya para pakar keuangan selalu menyarankan emas sebagai instrumen investasi jangka panjang.
Dengan menahannya selama beberapa tahun, kenaikan harga emas global akan menutup selisih spread tersebut dan pada akhirnya memberikan margin laba yang signifikan bagi Anda. (*)
*Sayiddil Akbar, Mahasiswa Universitas Trunodjoyo Madura.