Jawa Pos Radar Madiun - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus berkomitmen kuat untuk memperkuat fondasi industri Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS).
Langkah strategis ini bertujuan agar lembaga keuangan tersebut semakin tangguh dan berintegritas dalam memperluas akses permodalan di masyarakat.
Fokus utama penguatan ini ditujukan secara khusus untuk mendukung pertumbuhan ekonomi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Implementasi Peta Jalan 2024-2027
Upaya penguatan industri ini diwujudkan secara nyata melalui implementasi Peta Jalan Pengembangan dan Penguatan Industri BPR dan BPRS 2024–2027.
Peta jalan tersebut disusun sebagai instrumen utama untuk menjawab tantangan ekonomi global dan persaingan industri keuangan yang semakin ketat.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyebut dokumen panduan ini menjadi acuan krusial dalam perumusan strategi bisnis.
"Peta jalan ini menjadi acuan bagi BPR dan BPRS dalam merumuskan strategi bisnis yang tangguh agar mampu mempertahankan eksistensinya," ujar Dian.
Fokus utama panduan tersebut mencakup pilar penguatan struktur daya saing, akselerasi digitalisasi, serta penguatan peran lembaga di tingkat daerah.
OJK sangat berharap seluruh strategi ini mampu meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus memperkuat fungsi intermediasi bagi sektor UMKM.
Baca Juga: Dadan Hindayana Angkat Suara Usai Dicopot Prabowo dari Jabatan Kepala BGN
Hal ini menjadi krusial untuk mengantisipasi berbagai dampak gejolak perekonomian yang terus berkembang dinamis.
Pertumbuhan Positif Skala Nasional
Kinerja industri BPR dan BPRS secara skala nasional hingga periode Maret 2026 tercatat masih terus menunjukkan tren yang sangat positif.
Total aset industri ini sukses tumbuh 3,70 persen secara tahunan hingga menyentuh angka Rp236,69 triliun.
Penyaluran kredit dan pembiayaan bagi masyarakat juga mengalami peningkatan sebesar 2,83 persen menjadi Rp176,96 triliun.
Sementara itu, tren pengumpulan Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat tumbuh 3,16 persen menjadi total Rp165,49 triliun.
Ketahanan permodalan industri ini juga diklaim sangat kuat dengan rasio kecukupan modal agregat menyentuh angka aman 27,20 persen.
Porsi penyaluran kredit untuk menyokong sektor UMKM sendiri telah mendominasi hingga 50,07 persen dari total keseluruhan pembiayaan.
Menurut Dian, angka capaian strategis tersebut masih sangat berpotensi untuk ditingkatkan melalui kolaborasi dengan lembaga jasa keuangan lainnya.
Kinerja Cemerlang Wilayah Kediri
Tren pertumbuhan yang sangat positif ini rupanya juga terlihat sangat jelas di wilayah kerja OJK Kediri.
Hingga Maret 2026, total aset BPR dan BPRS di wilayah Kediri berhasil tumbuh meyakinkan sebesar 6,34 persen menjadi Rp4,80 triliun.
Sektor penyaluran kredit meningkat menjadi Rp3,41 triliun dan himpunan dana pihak ketiga tumbuh melesat mencapai Rp3,19 triliun.
Kepala OJK Kediri, Ismirani Saputri, menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh insan perbankan di wilayah kerjanya.
Apresiasi tinggi tersebut diberikan atas dedikasi dan kontribusi nyata mereka dalam mendukung roda pertumbuhan ekonomi daerah.
"Kami berharap BPR dan BPRS semakin berdaya saing dan adaptif terhadap perkembangan zaman," ungkap Ismirani memberikan harapannya.
Ia meyakini bahwa penguatan kolaborasi ini akan mampu melahirkan ekosistem perekonomian daerah yang jauh lebih inklusif dan berkelanjutan. (chi/ser)
Editor : Mizan Ahsani