Jawa Pos Radar Madiun - Kondisi pasar modal sedang bergejolak hebat. Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS menembus level psikologis baru, bertengger di kisaran Rp 18.020 hingga Rp 18.095. Efek dominonya langsung terasa di bursa saham; emiten perbankan blue chip primadona sejuta umat seperti BBCA dan BBRI ikut terkoreksi tajam masuk ke fase bearish.
Bagi investor pemula atau Gen Z yang baru terjun ke pasar modal, melihat portofolio tiba-tiba memerah tentu bikin jantungan. Pertanyaan terbesar yang muncul di grup-grup investasi sekarang adalah: apakah ini momen "diskon besar" untuk serok bawah (buy the dip), atau justru lebih aman menepi dulu (wait and see)?
Sebelum mengambil keputusan, aturan emas pertama yang wajib dipegang adalah: jangan panic selling! Menjual rugi saat panik hanya akan merealisasikan kerugian Anda.
Mari kita baca situasi ekonomi makro ini dengan bahasa yang lebih sederhana. Melemahnya Rupiah secara drastis biasanya dipicu oleh sentimen global, terutama kebijakan dari bank sentral Amerika Serikat.
Ketika Dolar AS sedang sangat kuat, investor asing (yang dananya mendominasi bursa kita) cenderung menarik uang mereka dari negara berkembang seperti Indonesia.
Mereka berjualan saham—termasuk BBCA dan BBRI—untuk memindahkan dananya ke instrumen Dolar yang dianggap lebih aman dan menguntungkan saat ini. Aksi jual masif inilah yang membuat harga saham perbankan kita "diskon".
Lalu, apa strategi yang tepat?
Jika amunisi yang Anda miliki adalah "uang dingin" (dana yang tidak akan dipakai untuk kebutuhan sehari-hari dalam 3 hingga 5 tahun ke depan), ini bisa menjadi peluang emas. Secara historis, fundamental bank-bank raksasa seperti BBCA dan BBRI terbukti kebal badai.
Anda bisa mulai melakukan strategi cicil beli (dollar cost averaging) di harga bawah. Kuncinya, belilah secara bertahap, jangan all-in atau menghabiskan seluruh peluru dalam satu hari.
Namun, jika cash flow Anda sedang pas-pasan, atau Anda masih ragu sejauh mana badai pelemahan Rupiah ini akan berlanjut, mengambil posisi wait and see adalah pilihan paling bijak. Pegang uang tunai (cash is king) sambil memantau langkah intervensi dari Bank Indonesia.
Di pasar saham, fluktuasi adalah hal yang wajar. Ketidakpastian makroekonomi tidak perlu ditakuti, melainkan dipahami. Ingatlah selalu bahwa dalam investasi, kesabaran dan rasionalitas sering kali dibayar jauh lebih mahal daripada kepanikan.
(*) *Muhammad Almaz Firza Sasongko, mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura
Editor : Mizan Ahsani