BRI Jaga Ekspansi Kredit Tetap Sehat, NPL Turun Jadi 3,01 Persen

Hengky Ristanto • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 19:27 WIB
TERJAGA: BRI memperkuat mitigasi risiko untuk menjaga kualitas ekspansi kredit, terutama pada pembiayaan segmen UMKM.
TERJAGA: BRI memperkuat mitigasi risiko untuk menjaga kualitas ekspansi kredit, terutama pada pembiayaan segmen UMKM.

Jawa Pos Radar Madiun – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menjaga ekspansi kredit tetap sehat di tengah upaya menggenjot pembiayaan.

Prinsip kehati-hatian dan mitigasi risiko diperkuat, terutama dalam penyaluran kredit kepada segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Strategi tersebut mulai tercermin pada kualitas aset perseroan.

Rasio non-performing loan (NPL) BRI turun dari 3,07 persen pada akhir Desember 2025 menjadi 3,01 persen per Maret 2026.

Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti mengatakan, pertumbuhan kredit tidak semata-mata diukur berdasarkan besarnya pembiayaan yang dikucurkan.

Kualitas debitur menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan penyaluran kredit.

Prospek usaha, kemampuan membayar, hingga risiko sektor usaha juga menjadi pertimbangan sebelum pembiayaan diberikan.

’’BRI tetap memiliki appetite untuk tumbuh dan menyalurkan kredit kepada sektor produktif. Namun, pertumbuhan tersebut harus dilakukan secara terukur dengan tetap mengutamakan kualitas,’’ ujarnya.

BRI menerapkan mitigasi risiko sejak proses underwriting atau penilaian kelayakan calon debitur.

Langkah tersebut dilanjutkan dengan pemantauan kualitas kredit hingga penerapan early warning system.

Monitoring tidak berhenti setelah kredit dicairkan. Pemantauan terus dilakukan untuk mendeteksi perubahan kualitas debitur maupun potensi tekanan yang muncul pada sektor usaha tertentu.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya BRI menjaga pertumbuhan kredit agar tidak mengorbankan kualitas aset.

’’Prinsip kami bukan sekadar bagaimana kredit dapat tumbuh, tetapi bagaimana kredit tersebut dapat tumbuh dengan kualitas yang terjaga,’’ tegas Ety.

Selain NPL, perbaikan kualitas kredit BRI terlihat pada rasio loan at risk (LaR). Angkanya turun dari 11,13 persen pada Maret 2025 menjadi 9,67 persen pada Maret 2026.

Dengan demikian, rasio LaR menyusut sekitar 145 basis poin secara tahunan.

BRI juga mempertahankan bantalan risiko melalui pencadangan. Per Maret 2026, rasio NPL coverage tercatat sebesar 179,45 persen. Sementara LaR coverage berada pada level 55,75 persen.

Menurut Ety, disiplin dalam pengelolaan risiko menjadi semakin penting karena portofolio BRI didominasi segmen UMKM.

Karakteristik nasabah UMKM yang beragam dan tersebar di seluruh Indonesia membutuhkan pendekatan pengelolaan risiko yang lebih terperinci.

Karena itu, BRI terus memperkuat pendekatan berbasis data untuk membaca profil risiko nasabah.

Strategi tersebut diharapkan menjaga ekspansi kredit tetap sehat sekaligus mempertahankan kualitas pembiayaan perseroan. (*/her)

Editor : Hengky Ristanto
Kredit BRI mitigasi risiko BRI NPL BRI kredit umkm