Jawa Pos Radar Madiun – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) mencatat kinerja positif hingga akhir triwulan II 2026. Laba bersih BRI Group mencapai Rp 31,2 triliun, tumbuh 17,5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Pertumbuhan tersebut tetap ditopang segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Hingga akhir Juni 2026, kredit UMKM yang disalurkan BRI mencapai Rp 1.235,4 triliun atau tumbuh 8,6 persen yoy.
Nilai tersebut setara 75,1 persen dari keseluruhan portofolio kredit dan pembiayaan BRI Group. Capaian itu sekaligus memperlihatkan besarnya porsi UMKM dalam bisnis utama perseroan.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan, kinerja tersebut diraih di tengah perekonomian nasional yang tetap resilien. Transformasi yang dijalankan perseroan, menurut dia, tetap beriringan dengan keberpihakan terhadap pelaku usaha kecil.
’’Di tengah transformasi yang terus kami jalankan, satu hal yang tidak berubah adalah komitmen BRI untuk terus tumbuh bersama UMKM dan ekonomi kerakyatan Indonesia,’’ ujarnya dalam pemaparan kinerja di Kantor Pusat BRI, Jakarta, Senin (31/8).
Secara konsolidasian, aset BRI mencapai Rp 2.352 triliun atau tumbuh 11,7 persen yoy. Kredit dan pembiayaan meningkat 16,2 persen menjadi Rp 1.646 triliun, sedangkan dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp 1.581 triliun atau tumbuh 6,7 persen.
Pendapatan bunga bersih (net interest income) juga meningkat 9,9 persen menjadi Rp 80,5 triliun. Sementara itu, Pre-Provision Operating Profit (PPOP) tumbuh 12,8 persen menjadi Rp 65,7 triliun.
Ekspansi bisnis tersebut dibarengi perbaikan sejumlah indikator fundamental. Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) turun dari 3 persen menjadi 2,9 persen.
Cost of Fund (CoF) secara bank only membaik dari 3 persen menjadi 2,4 persen. Sementara Return on Equity (ROE) meningkat dari 16,6 persen menjadi 18,8 persen.
’’Yang terpenting bukan hanya seberapa cepat BRI bertumbuh, tetapi bagaimana pertumbuhan tersebut dihasilkan dari fundamental yang semakin sehat dan pada saat bersamaan memberikan manfaat semakin luas bagi perekonomian,’’ kata Hery.
Selain melalui kredit UMKM, BRI memperkuat program pemberdayaan pelaku usaha. Hingga Juni 2026, program Desa BRILiaN telah menjangkau lebih dari 5.700 desa dan Klasterku Hidupku mencakup lebih dari 44 ribu klaster usaha.
Platform LinkUMKM telah menjangkau sekitar 17,3 juta pelaku UMKM. Sedangkan Rumah BUMN mencakup sekitar 596 ribu pelaku usaha.
Sepanjang Januari–Juni 2026, BRI juga telah menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp 103,8 triliun kepada lebih dari dua juta debitur.
’’Bagi BRI, pembiayaan dan pemberdayaan merupakan satu kesatuan. Kami ingin menciptakan siklus pertumbuhan yang berkelanjutan,’’ pungkas Hery.
Editor : Hengky Ristanto