Susuri Laut Sebatik, AO PNM Dampingi Hampir 100 Perempuan Pelaku Usaha

Hengky Ristanto • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 19:05 WIB
NAIK KELAS: Account Officer PNM Mekaar Fipi Novita Sari mendampingi perempuan pelaku usaha di Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara.
NAIK KELAS: Account Officer PNM Mekaar Fipi Novita Sari mendampingi perempuan pelaku usaha di Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara.

NUNUKAN, Jawa Pos Radar Madiun – Bagi Fipi Novita Sari, mendampingi perempuan pelaku usaha di Pulau Sebatik bukan sekadar datang ke rumah nasabah.

Account Officer (AO) PNM Mekaar itu harus menyeberangi laut hingga menyusuri jalan berkelok dan berbukit untuk menjangkau mereka.

Selama tiga bulan bertugas di Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara, Novi mendampingi sekitar 18 kelompok dengan hampir 100 nasabah PNM Mekaar.

Mayoritas merupakan perempuan yang menggantungkan penghasilan dari usaha rumput laut.

Pembiayaan yang diperoleh antara lain digunakan untuk menambah kebutuhan produksi, seperti membeli tali untuk budidaya rumput laut.

Medan menjadi tantangan tersendiri bagi Novi.

Sebagian wilayah yang harus dilaluinya merupakan kawasan perkebunan kelapa sawit dengan kontur jalan berkelok dan berbukit. Di lokasi tertentu, perjalanan juga harus ditempuh melalui jalur laut.

Kondisinya semakin menantang ketika hujan turun dan gelombang meninggi. Sementara Novi tetap harus menjangkau kelompok nasabah sesuai jadwal.

’’Terkadang kami harus mengejar waktu sehingga perjalanan terasa cukup menantang,’’ ujarnya.

Namun, di balik perjalanan tersebut, Novi menyaksikan perubahan ekonomi sejumlah perempuan Sebatik.

Sebagian nasabah yang ditemuinya sebelumnya bekerja sebagai ’’Mak Betang’’, istilah lokal untuk pekerja yang membantu mengikat rumput laut, termasuk bekerja di tempat penjemuran.

Setelah memperoleh pembiayaan PNM Mekaar, sebagian dari mereka mulai merintis usaha sendiri.

Dari yang sebelumnya mengandalkan upah sebagai pekerja, mereka perlahan mencoba menjadi pelaku usaha.

’’Jadi, sebelumnya hanya sebagai pekerja, sekarang mereka mulai memiliki usaha sendiri,’’ kata Novi.

Aktivitas ekonomi nasabah PNM di Sebatik tidak hanya bertumpu pada rumput laut.

Ada pula keluarga yang menjalankan usaha berbasis hasil laut seperti udang dan kerang tudai.

Dalam beberapa keluarga, suami mencari hasil laut dan istri mengambil peran dalam pemasarannya.

Usaha rumput laut di Sebatik juga disebut terhubung dengan rantai ekonomi antardaerah.

Sebagian hasil produksi dari Nunukan dikirim ke Sulawesi untuk menjalani pengolahan.

Sejumlah nasabah bahkan mulai mengembangkan produk olahan, salah satunya amplang rumput laut.

Perkembangan usaha tersebut, menurut Novi, juga membuka peluang ekonomi bagi warga di sekitarnya.

’’Dampak nyatanya adalah nasabah bisa membuka peluang kerja bagi orang lain. Mereka bisa mengembangkan usahanya sehingga usahanya semakin besar,’’ tuturnya.

Pendampingan pelaku usaha ultra mikro di wilayah seperti Sebatik menjadi bagian dari ekosistem Holding Ultra Mikro (UMi).

Holding UMi terdiri atas BRI sebagai induk bersama PT Pegadaian dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM).

Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan, Holding Ultra Mikro berupaya memperluas akses pembiayaan sekaligus pemberdayaan masyarakat hingga wilayah pelosok.

Hingga kini, Holding UMi tercatat telah menjangkau 33,6 juta nasabah pinjaman. Sementara basis simpanan mikro mencapai lebih dari 166,3 juta rekening.

’’Kisah Novi di Sebatik menjadi salah satu gambaran bagaimana manfaat tersebut hadir hingga ke pelosok daerah,’’ kata Dhanny. (*)

Editor : Hengky Ristanto
perempuan Sebatik usaha rumput laut holding ultra mikro pnm mekaar