Dari PMI Jadi Pengusaha, Tati Raup Omzet hingga 120 Ribu NTD dari Bubur Cirebon di Taiwan

Hengky Ristanto • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 11:05 WIB
NAIK KELAS: Tati Purwanti mengembangkan usaha Bubur Cirebon di Taiwan setelah sebelumnya menjalani kehidupan sebagai pekerja migran Indonesia.
NAIK KELAS: Tati Purwanti mengembangkan usaha Bubur Cirebon di Taiwan setelah sebelumnya menjalani kehidupan sebagai pekerja migran Indonesia.

TAIPEI, Jawa Pos Radar Madiun – Dua dekade lebih setelah meninggalkan Indramayu untuk bekerja sebagai pekerja migran Indonesia (PMI) di Taiwan, kehidupan Tati Purwanti berubah jauh.

Perempuan yang dahulu merantau demi menopang ekonomi keluarga itu kini menjadi pengusaha Bubur Cirebon dengan omzet hingga 120 ribu NTD.

Jalan menuju titik tersebut tak berlangsung singkat. Tati lebih dahulu menjalani kehidupan sebagai PMI. Babak baru dimulai ketika dia menikah dengan warga Taiwan pada 2013.

Tiga tahun kemudian, Tati kembali ke Indonesia dengan membawa keinginan membangun usaha sendiri.

Pengalamannya selama tinggal di Taiwan membuatnya melihat peluang dari tren bubble tea yang kala itu telah berkembang di negara tersebut.

’’Waktu itu saya melihat bubble tea sudah banyak di Taiwan. Melihat peluang itu, saya coba membawa pengalaman yang saya dapat selama di sana,’’ ceritanya.

Keputusannya membuahkan hasil. Bisnis bubble tea yang dirintis Tati berkembang hingga memiliki lima cabang dan mempekerjakan sekitar 35 orang.

Namun, pandemi Covid-19 pada 2020 mengubah keadaan. Bisnis yang telah dibangun terdampak hingga Tati akhirnya kembali ke Taipei.

Dia harus menata ulang kehidupan sekaligus mencari peluang usaha baru.

Kesempatan itu datang pada 2022. Tati memutuskan memperkenalkan Bubur Cirebon di Taiwan.

Keputusan tersebut sempat dibayangi keraguan, salah satunya karena kondisi cuaca Taiwan yang relatif panas.

’’Saya pikir, kalau tidak dicoba kita tidak akan tahu. Jadi waktu itu saya jalani saja dulu,’’ ujarnya.

Tati bersama suaminya kemudian meracik dan menyempurnakan resep. Perjalanan awal jauh dari kata mudah.

Selama sekitar delapan bulan, dia menjajakan Bubur Cirebon di pinggir jalan.

Ketekunannya perlahan membuahkan hasil. Produk yang ditawarkan mulai memiliki pelanggan hingga Tati akhirnya mampu mempunyai tempat usaha sendiri.

Kini, omzet usahanya berkisar 30 ribu hingga 120 ribu NTD. Bisnis tersebut bukan hanya menjadi sumber penghasilan bagi Tati, tetapi juga membuka kesempatan baginya untuk membantu sesama warga Indonesia yang mencari penghidupan di Taiwan.

’’Saya dulu juga datang ke Taiwan untuk bekerja dan membantu keluarga. Jadi, kalau sekarang ada kesempatan membantu orang Indonesia yang mau bekerja di sini, saya bantu sebisa saya,’’ tuturnya.

Perkembangan bisnis turut mengubah kebutuhan transaksi keuangan Tati.

Jika sebelumnya dia menggunakan layanan BRI untuk mengirim uang ke Indonesia, kini Tati memanfaatkan BRI Taipei untuk menyetorkan penerimaan usaha sekaligus menyediakan pembayaran melalui QR.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi menilai perjalanan Tati menunjukkan potensi pekerja migran Indonesia untuk berkembang menjadi wirausaha dan menciptakan peluang ekonomi bagi orang lain.

’’Perjalanan dari seorang pekerja migran hingga mampu membangun usaha, menciptakan lapangan pekerjaan, dan membuka peluang bagi sesama masyarakat Indonesia merupakan wujud nyata dari semangat pemberdayaan yang ingin terus kami dorong,’’ ujarnya.

BRI juga memperkuat layanan bagi masyarakat Indonesia di Taiwan melalui BRImo Taiwan.

Layanan tersebut mencakup transfer ke Indonesia, transfer lokal, pembayaran, hingga berbagai transaksi perbankan selama 24 jam.

Hingga akhir Juli 2026, BRI Taipei mencatat total aset lebih dari USD 408 juta.

Sementara nilai transaksi remitansi Taiwan–Indonesia melalui layanan BRI mencapai sekitar USD 490 juta dengan lebih dari 3.400 rekening yang telah dilayani.

Perjalanan Tati dari PMI hingga menjadi pengusaha Bubur Cirebon menjadi gambaran bagaimana pengalaman merantau dapat berkembang menjadi peluang usaha.

Dari lima cabang bubble tea yang pernah dibangunnya di Indonesia hingga memulai kembali usaha dari pinggir jalan di Taiwan, Tati memilih terus mencoba ketika keadaan berubah. (*)

Editor : Hengky Ristanto
Bubur Cirebon BRI Taipei pekerja migran indonesia BRImo Taiwan