Jawa Pos Radar Madiun - Sebuah kendaraan yang dituntut melaju kencang sambil membawa beban berat tak selalu butuh mesin baru.
Terkadang, langkah paling cerdas adalah menyetel ulang mesin lama yang sudah teruji keandalannya di berbagai medan.
Analogi inilah yang paling pas untuk menggambarkan perombakan mengejutkan di kabinet Presiden Prabowo Subianto pada Senin (14/9).
Secara tiba-tiba, kursi Menteri Keuangan resmi berganti tuan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara.
Pergantian mendadak ini terjadi di saat yang sangat krusial, yakni ketika pemerintah tengah sibuk meracik postur APBN 2027.
Langkah strategis ini bukanlah sekadar bongkar pasang nama, melainkan upaya memastikan mesin fiskal negara tetap bekerja optimal.
Baca Juga: PT INKA Rugi Rp 670 Miliar dan Catat Utang Triliunan, Bos Danantara Ungkap Rencana Besarnya
Target Ambisius APBN 2027
Sejak pertengahan Agustus lalu, Presiden Prabowo telah menitipkan dua misi besar yang harus berjalan beriringan.
Pemerintah dituntut memacu laju pertumbuhan ekonomi lebih tinggi, namun di saat bersamaan harus menjaga kesehatan kas negara.
Target pertumbuhan ekonomi pada 2027 dipatok cukup agresif, yakni di angka 6 persen.
Menariknya, di tengah ambisi tersebut, defisit anggaran justru ditekan turun menjadi 2,40 persen terhadap PDB.
Angka ini jauh lebih ketat dibandingkan proyeksi defisit pada APBN 2026 yang dipertahankan di level 2,68 persen.
Di atas kertas, belanja negara tahun depan diproyeksikan menyentuh angka fantastis Rp 4.097,2 triliun.
Sementara itu, target pendapatan negara dipatok kuat pada kisaran Rp 3.426 triliun.
Kombinasi angka-angka ini menjadi sinyal kuat tentang betapa kompleksnya tugas yang kini membebani pundak Suahasil Nazara.
Ia harus memastikan roda ekonomi terus berputar melalui investasi dan perlindungan sosial, tanpa mengorbankan stabilitas fiskal jangka panjang.
"Arahan Presiden adalah menjaga kesehatan dan kredibilitas keuangan negara, tetapi program prioritas harus tetap jalan," tegas Suahasil sesaat setelah dilantik.
Baca Juga: Daftar Aplikasi Berbahaya untuk Anak Versi Komdigi: Valorant, Pinterest, dan Telegram Zona Merah
"Orang Dalam" yang Paham Luar Dalam
Penunjukan Suahasil oleh Presiden Prabowo dinilai oleh banyak kalangan sebagai langkah aman dan sangat terukur.
Prabowo tidak memilih sosok amatir yang butuh waktu lama untuk meraba-raba cara kerja mesin birokrasi keuangan.
Suahasil adalah sosok "orang dalam" tulen yang telah bertahun-tahun hidup dan bernapas di koridor utama Kementerian Keuangan.
Berangkat dari dunia akademik, ia merupakan lulusan ilmu ekonomi Universitas Indonesia, Cornell University, dan University of Illinois.
Kariernya di lingkaran pemerintahan terbilang berjenjang dan sangat matang di bidang perumusan kebijakan ekonomi makro.
Ia pernah menduduki kursi strategis sebagai Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) secara definitif pada tahun 2016 silam.
Setelahnya, Suahasil dipercaya menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan di era Presiden Joko Widodo dan berlanjut ke awal pemerintahan Prabowo.
Rekam jejak panjang ini membuatnya sangat paham bagaimana setiap kepingan APBN dirakit, dieksekusi, dan dievaluasi.
Ia tahu persis cara menghitung penerimaan, merancang belanja, mengelola pembiayaan utang, hingga merespons krisis ekonomi.
Baca Juga: TPA Milangasri Belum Sepenuhnya Aman, Bupati Magetan Instruksikan Siaga 24 Jam
Efisiensi Anggaran Bukan Asal Potong
Pengalaman mental Suahasil semakin teruji ketika ia ikut menakhodai kebijakan fiskal luar biasa saat badai pandemi Covid-19 menghantam.
Kala itu, ia menjadi bagian dari tim inti yang melebarkan defisit hingga 6,1 persen demi menyelamatkan nyawa dan urat nadi ekonomi warga.
Dari momen genting tersebut, ia membuktikan bahwa disiplin fiskal tidak melulu soal menahan laju belanja negara.
Dalam kondisi darurat, negara harus berani jor-joran mengeluarkan dana, asalkan sasarannya jelas, ketat, dan terukur.
Pemahaman mendalam inilah yang menjadi bekal utamanya dalam menerjemahkan makna efisiensi sejati pada APBN 2027.
Bagi Suahasil, efisiensi bukan sekadar memotong anggaran secara membabi buta demi menghemat kas negara.
Efisiensi sejati adalah memastikan setiap rupiah yang keluar mampu memberikan dampak ganda (multiplier effect) bagi hajat hidup masyarakat.
Anggaran tersebut harus mampu menciptakan lapangan kerja baru, mendongkrak produktivitas, dan subsidi yang benar-benar tepat sasaran.
Kini, pengalaman puluhan tahun Suahasil kembali diuji di tengah ketidakpastian tren harga komoditas dan dinamika geopolitik global.
Tantangan terbesarnya hari ini adalah menyetir mesin fiskal secara lincah agar roda pembangunan meroket, tanpa membuat negara tekor. (naz)
Editor : Mizan Ahsani