Jawa Pos Radar Madiun – Franchise horor Final Destination akhirnya kembali lewat instalasi keenam bertajuk Final Destination Bloodlines.
Film garapan Zach Lipovsky dan Adam Stein ini menghadirkan teror kematian berantai khas seri sebelumnya, namun dengan sentuhan emosional yang lebih kuat.
Sebab kali ini, maut datang mengejar mereka yang terhubung lewat garis darah.
Cerita dibuka dengan tokoh Iris Campbell (Brec Bassinger) yang mendapat penglihatan tentang ledakan Sky View Restaurant pada tahun 1968.
Ia berhasil menyelamatkan puluhan orang dari kematian mengenaskan.
Namun, puluhan tahun kemudian, cucunya Stefanie (Kaitlyn Santa Juana) mengalami penglihatan serupa—dan kali ini, ancaman kematian berbalik mengejar keluarga besar mereka.
Stefanie menyadari bahwa tidak ada yang bisa lari dari maut.
Satu per satu anggota keluarga yang terhubung dengan insiden masa lalu mulai mati secara misterius dan mengenaskan.
Seperti versi sebelumnya, setiap adegan kematian terjadi akibat reaksi berantai yang rumit, dari benda-benda sepele seperti sendok hingga lift dan ponsel.
Film ini mendapatkan sambutan positif dari kritikus.
Rotten Tomatoes memberi skor 92%, menyebut Bloodlines berhasil menambahkan lapisan emosional dan kompleks dalam formula klasik Final Destination.
"Ada kedalaman baru dalam dinamika antar karakter, terutama soal keluarga," tulis salah satu ulasan di sana.
Yang menarik, Final Destination Bloodlines bukan reboot, melainkan lanjutan langsung dari cerita sebelumnya.
Tokoh misterius William Bludworth (Tony Todd) kembali muncul, dan untuk pertama kalinya masa lalunya dijelaskan lebih mendalam.
Hal ini memperkuat keterkaitan film dengan seri sebelumnya dan menjadi fan-service bagi penggemar lama.
Sutradara Lipovsky juga menekankan bahwa film ini bukan hanya soal menantang maut.
Tapi juga soal hubungan keluarga, trauma antargenerasi, dan bagaimana setiap karakter merespons teror dengan cara yang manusiawi.
Mulai dari karakter “si bintang bertato yang ternyata penyayang keluarga” hingga “atlet sensitif” menjadi warna tersendiri di tengah tekanan psikologis yang menghantui mereka.
Film ini menyajikan kombinasi horor fisik yang brutal dan drama emosional yang jarang terlihat dalam franchise horor.
Dengan naskah kuat dan visual yang efektif, Bloodlines berhasil memberikan napas baru untuk Final Destination. (her)
Editor : Hengky Ristanto