Jawa Pos Radar Madiun – Dalam dunia pedalangan Jawa, tidak mudah mempertahankan eksistensi di tengah gempuran budaya digital dan selera hiburan instan.
Namun, Ki Bayu Aji Pamungkas, dalang muda yang bersuara lantang dan penuh cengkok khas, berhasil membuktikan bahwa seni wayang kulit masih punya tempat istimewa di hati masyarakat.
Cengkok, gaya vibrasi vokal dalam menyanyikan suluk atau tembang Jawa, menjadi salah satu ciri khas Bayu Aji yang sulit ditiru.
Suaranya yang tegas dan mantap bukan hanya terdengar indah, tetapi juga menggetarkan.
Tak hanya cengkok, catur atau dialog antar tokoh wayang yang ia mainkan pun penuh daya hidup.
Ia menggabungkan kekuatan narasi, intonasi, dan kadang-kadang unsur cucut (kelucuan yang semu tapi menghibur) dari pengalamannya mendalang sejak kecil.
Berbekal kemampuan sabet (gerak wayang), suara, serta improvisasi narasi, Ki Bayu Aji terus bertahan di panggung pedalangan hingga kini.
Padahal zaman makin kompleks. Kebudayaan lokal makin tersisih oleh gemerlap budaya pop. Namun, Bayu Aji tidak menyerah.
Namanya sempat mencuat di kalangan pegiat seni tradisi ketika ia membawakan lakon baru yang dianggap kontroversial.
Beberapa pihak mengkritik karena cerita dianggap melenceng dari pakem klasik. Namun bagi Bayu Aji, seni wayang adalah ruang berekspresi dan menyampaikan pesan moral.
Ia tidak lari dari kritik. Tapi juga tidak berhenti berkarya.
Selain mendalang, Ki Bayu Aji juga menekuni dunia seni peran. Ia aktif dalam dunia akting untuk memperdalam pemahaman tentang karakter tokoh.
Baginya, menjadi dalang bukan hanya soal memainkan wayang. Tapi juga memahami setiap peran secara mendalam. (*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani