Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Kisah Ki Cahyo Kuntadi, Dalang Blitar yang Mendidik Generasi Baru Lewat Kampus dan Kampung Wayang

Ki Damar • Kamis, 21 Agustus 2025 | 02:12 WIB

 

Ki Cahyo Kuntadi bersama sejumlah sinden dalam suatu pementasan wayang.
Ki Cahyo Kuntadi bersama sejumlah sinden dalam suatu pementasan wayang.

Jawa Pos Radar Madiun – Di balik gemerlap panggung pedalangan, sosok Ki Cahyo Kuntadi menyimpan perjalanan yang luar biasa.

Dalang muda asal Blitar ini bukan hanya penerus darah seni dari sang ayah, Ki Sukron Suwanda, dalang kondang Blitar, tapi juga seorang akademisi yang mengabdikan hidupnya untuk menjaga nyala budaya Jawa.

Lahir dari keluarga dalang, Ki Cahyo tumbuh di tengah gendhing, cempala, dan suluk. Tak heran jika dia akhirnya memilih mendalami dunia pakeliran.

Saat ini, dia menjadi dosen tetap di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, mengampu mata kuliah Pakeliran Garap 1 dan 2.

Di kampus seni terkemuka itu, Ki Cahyo dikenal sebagai dosen yang disukai mahasiswa karena gaya mengajarnya yang enerjik, kritis, dan inspiratif.

Mahasiswa mengidolakan gaya pakeliran khasnya yang adaptif terhadap zaman, namun tetap menjaga pakem tradisional.

Dia bukan hanya mengajar teori, tetapi membawa pengalaman langsung dari panggung ke ruang kelas.

Tak hanya sukses di dunia profesi, istri Ki Cahyo, yakni Nyi Sukesi, juga dikenal sebagai sinden profesional dan dosen di ISI Surakarta.

Keduanya kerap tampil bersama dalam berbagai pagelaran wayang kulit. Meski memiliki jadwal padat mendalang, baik Ki Cahyo (yang berstatus PPPK) maupun istrinya (PNS) tetap disiplin hadir mengajar di kampus setiap pagi.

Kebersamaan mereka dalam dunia pendidikan dan seni menjadi inspirasi pasangan muda yang ingin menyeimbangkan karier dan kehidupan keluarga.

Sejak usia muda, Ki Cahyo sudah menorehkan berbagai prestasi di dunia pedalangan. Ia pernah menyabet juara tingkat provinsi hingga nasional, mengalahkan dalang-dalang dari berbagai daerah.

Kemenangan itu bukan hasil instan, melainkan buah dari latihan keras, konsistensi, dan kecintaan mendalam terhadap seni wayang. Namanya pun semakin dikenal luas di kalangan penggemar wayang, baik dari generasi tua maupun muda.

Kecintaan Ki Cahyo pada dunia pewayangan tak berhenti di kampus atau panggung. Di Karanganyar, tempatnya bermukim sekarang, dia mendirikan “Kampung Wayang”.

Sebuah pusat pembelajaran budaya, tempat masyarakat belajar wayang kulit, karawitan, dan seni tradisi lainnya.

Kampung Wayang ini menjadi oase budaya di tengah era digital. Di sana, anak-anak hingga orang dewasa bisa mengenal kembali akar seni Jawa secara langsung dan menyenangkan.

Sosok Ki Cahyo Kuntadi adalah gambaran nyata bahwa seni tradisi tidak mati, asalkan ada yang terus merawat dan menghidupkannya.

Dari panggung pertunjukan hingga ruang kelas, dari Blitar hingga Karanganyar, Ki Cahyo menjalani panggilan hidupnya sebagai dalang, pendidik, dan penjaga warisan budaya.

Kisah hidupnya bukan hanya tentang pentas wayang, tapi juga tentang konsistensi, dedikasi, dan cinta pada budaya.

Dalam diri Ki Cahyo, kita melihat masa depan pewayangan yang tetap relevan dan bermartabat di tengah modernitas. (den)

Editor : Deni Kurniawan
#dalang #karanganyar #biografi #blitar #Ki Cahyo Kuntadi #isi surakarta #wayang