Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Kisah Hidup Ki Anom Suroto, dari Panggung Wayang hingga Akhir yang Penuh Keikhlasan

Ki Damar • Rabu, 29 Oktober 2025 | 04:00 WIB
Ki Anom Suroto dalam salah satu pementasan wayang.
Ki Anom Suroto dalam salah satu pementasan wayang.

Jawa Pos Radar Madiun - Ketenaran Ki Anom Suroto tidak hanya berasal dari kepiawaiannya di panggung wayang.

Dalang kondang asal Surakarta itu dikenal luas karena kemampuannya menjembatani nilai-nilai budaya, politik, dan kehidupan rakyat lewat bahasa simbolik pedalangan.

Pada masa Orde Baru, kedekatan Ki Anom dengan sejumlah tokoh elit politik menjadi salah satu faktor yang turut mengangkat namanya di kancah nasional.

Pagelarannya sering dijadikan sarana menyampaikan pesan pembangunan oleh berbagai partai politik dan lembaga pemerintah.

Namun, bagi Ki Anom, wayang bukan alat politik, melainkan media komunikasi universal.

“Selama pesan yang disampaikan bersifat kebaikan dan bermanfaat bagi rakyat, saya tidak menganggapnya masalah,” ujar Ki Anom dalam salah satu wawancara semasa hidupnya.

Ia sering tampil di acara-acara besar seperti hari jadi kabupaten, peringatan provinsi, hingga hajatan nasional.

Dalam setiap pementasan, Ki Anom selalu berhasil menghadirkan harmoni antara pemimpin dan rakyat. Itulah sebabnya, ia dicintai berbagai kalangan dari pejabat hingga masyarakat biasa.

Wayang untuk Semua

Bagi Ki Anom, wayang adalah milik masyarakat, bukan golongan.

Ia tidak pernah memilih siapa yang berhak menanggap pertunjukan. “Wayang adalah milik semua orang yang mencintai budaya,” ungkapnya suatu ketika.

Dengan pandangan inklusif itulah, Ki Anom menjadi simbol persatuan. Ia menolak mengkotakkan kesenian dalam sekat sosial, agama, atau politik. Baginya, selama wayang mengajarkan kebaikan dan ketulusan, maka nilai spiritual dan moralnya tetap hidup.

Baca Juga: Momentum Sumpah Pemuda, Bupati Magetan Beri Santunan BPJS Ketenagakerjaan Senilai Rp 229 Juta

Lebih dari 50 Tahun Mengabdi di Dunia Wayang

Dari usia 12 tahun hingga 77 tahun, Ki Anom tak pernah berhenti mendalang.

Ia tampil di berbagai panggung dari pedesaan hingga luar negeri, dengan total jam terbang yang belum tertandingi.

Ketekunannya membuatnya menjadi dalang pertama yang eksis lebih dari setengah abad, dan banyak dalang muda mengakui, belum ada sosok lain yang mampu bertahan selama itu di dunia pedalangan.

Ki Anom Suroto Wafat dengan Penuh Keikhlasan

Dalang legendaris ini berpulang pada Kamis, 23 Oktober 2025, pukul 07.00 WIB di RS Dr. Oen Kandang Sapi, Solo.

Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, serta masyarakat seni dan budaya di seluruh Indonesia.

Sepanjang hidupnya, Ki Anom dikenal sebagai tokoh yang tak hanya mendalang, tapi juga mendidik. Ia mendirikan sanggar seni, membina generasi muda, dan menjadi tempat belajar bagi banyak calon dalang.

Dalam dunia pedalangan, ia dikenal karena kemampuannya menjembatani tradisi dan isu-isu kontemporer, menghadirkan pertunjukan wayang yang sarat makna sosial dan refleksi kehidupan.

Pesan Terakhir Seorang Maestro

Sebelum wafat, Ki Anom sempat berpesan kepada putranya, Ki Bayu Aji, agar tetap menjaga kemurnian pakeliran gaya Ki Anom Suroto.

“Tetap di jalurmu, jangan miyar-miyur. Jaga pakeliran gaya Ki Anom agar tidak tergerus arus,” katanya kepada sang anak.

Ia juga berpesan agar ketika jenazahnya diberangkatkan, dibawakan suluk Pathet Lindur dengan cakepan Nembang Tengara Mundur.

“Saya sudah siap dipanggil Allah. Tidak ada yang saya gondeli lagi,” ujarnya dengan tenang beberapa hari sebelum wafat.

Kalimat itu menjadi tanda betapa ikhlas dan mantapnya Ki Anom menghadapi akhir hayat. Ia berpulang dalam kedamaian, meninggalkan warisan besar bagi dunia kesenian dan nilai-nilai moral yang terus hidup di hati para penerusnya.

Pemerintah daerah, komunitas seni, hingga sesama dalang menyebut kepergian Ki Anom sebagai kehilangan besar bagi bangsa.

Ia dikenang sebagai pahlawan seni yang mengabdikan hidupnya untuk melestarikan budaya Jawa dan memperkenalkan wayang ke dunia.

Wayangnya telah berakhir, tapi pesan yang ia titipkan akan terus hidup dalam suara gamelan, gending, dan lakon yang lahir dari tangan seorang maestro bernama Ki Anom Suroto. (*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#dalang #Ki Anom Suroto #Ki Anom meninggal #wayang