Jawa Pos Radar Madiun - Nama Pandji Pragiwaksono kembali ramai diperbincangkan publik setelah cuplikan video lawakannya beredar luas di media sosial.
Dalam penampilan tersebut, Pandji menyinggung tradisi masyarakat Toraja dengan mengatakan bahwa warga daerah itu bisa jatuh miskin karena biaya pesta pemakaman adat yang tinggi.
"Di Toraja, kalau ada anggota keluarga yang meninggal, dimakaminnya pakai pesta yang mahal banget, bener nggak gue? Bahkan banyak orang Toraja yang jatuh miskin habis bikin pesta untuk pemakaman keluarganya," kata Pandji dalam potongan video yang viral dilihat Senin (3/11).
Ia bahkan menambahkan candaan tentang jenazah yang disimpan di ruang tamu sebelum dikuburkan.
"Dan banyak yang nggak punya duit untuk makamin, akhirnya jenazahnya dibiarin gitu aja, jenazahnya ditaruh aja gitu di ruang tamu. Untuk keluarganya sih biasa-biasa aja, tapi untuk yang bertamu kan bingung ya. Nonton apa pun berasa horor," ungkap Panjdi disambut tawa penonton.
Potongan itu memicu reaksi keras dari berbagai kalangan. Tokoh adat dan budayawan Toraja menilai candaan tersebut melecehkan martabat dan kesakralan tradisi Rambu Solo’, yang bagi masyarakat Toraja merupakan bentuk penghormatan tertinggi kepada leluhur.
Mereka meminta Pandji untuk memberikan klarifikasi dan permohonan maaf terbuka atas materi yang dinilai tidak sensitif terhadap nilai budaya.
Meski hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pihaknya, kontroversi ini menjadi pembicaraan nasional dan menimbulkan perdebatan soal batas antara kebebasan berekspresi dan etika budaya dalam dunia komedi.
Profil Singkat Pandji Pragiwaksono
Pandji Pragiwaksono Wongsoyudo lahir pada 18 Juni 1979. Ia merupakan salah satu komika, penyiar radio, penulis, dan aktor yang dikenal karena gaya bicaranya yang cerdas, kritis, dan sarat pesan sosial.
Pandji menempuh pendidikan tinggi di Institut Teknologi Bandung (ITB), jurusan Desain Produk, sebelum meniti karier di dunia hiburan.
Ia memulai kariernya sebagai penyiar radio dan pembawa acara televisi, lalu perlahan beralih ke dunia stand-up comedy, yang kemudian mengangkat namanya di panggung nasional.
Pandji dikenal sebagai salah satu pelopor gelombang awal stand-up comedy Indonesia, bersama sejumlah komika ternama lain.
Selain aktif di panggung hiburan, Pandji juga dikenal sebagai sosok yang gemar berdiskusi soal isu politik, sosial, dan nasionalisme.
Ia kerap memadukan humor dengan kritik sosial, menjadikannya sosok yang disegani namun juga sering menuai kontroversi.
Perjalanan Karier dan Karya
Pandji tidak hanya dikenal sebagai komika, tetapi juga sebagai seniman multitalenta. Ia aktif di berbagai bidang: musik rap, penulisan buku, hingga film layar lebar.
Karier Hiburan & Musik
Pandji pernah merilis beberapa album musik rap, antara lain:
- Provocative Proactive
- You’ll Never Know When Someone Comes In and Changes Everything
- 32
Musiknya banyak membahas isu nasionalisme, anak muda, dan kritik sosial, dengan gaya khasnya yang lugas dan patriotik.
Buku yang Pernah Ditulis Pandji
Pandji dikenal produktif menulis. Beberapa bukunya antara lain:
- Nasional.Is.Me
- Berani Mengubah
- Merdeka dalam Bercanda
- Indonesiana
- Komik Pandji: Menjadi Indonesia
Tulisan-tulisannya banyak mengangkat semangat nasionalisme, kreativitas, dan pandangan hidup modern yang optimistis.
Film dan Serial yang Pernah Dibintangi
Selain tampil di panggung komedi, Pandji juga terlibat di dunia film. Beberapa di antaranya:
- Make Money (2013)
- Insya Allah Sah (2017)
- Insya Allah Sah 2 (2018)
- Partikelir (2018) yang juga ia sutradarai dan tulis sendiri
Film “Partikelir” menandai kiprah Pandji sebagai sutradara yang berani menggabungkan humor, aksi, dan isu sosial urban dalam satu kemasan ringan.
Pandji dikenal sebagai figur publik yang selalu mengedepankan kebebasan berekspresi dan kritis terhadap isu bangsa.
Namun, kasus lawakan yang menyinggung budaya Toraja menjadi pengingat penting bahwa dalam dunia komedi, batas etika dan sensitivitas budaya harus tetap dijaga.
Kini, publik menanti bagaimana Pandji merespons kritik tersebut apakah dengan permintaan maaf terbuka, atau refleksi yang lebih dalam terhadap cara menyampaikan humor di tengah masyarakat yang majemuk.
Kontroversi ini bukan hanya soal lelucon, tetapi juga soal bagaimana seorang publik figur memahami makna keberagaman budaya Indonesia tanpa mengabaikan rasa hormat terhadap setiap tradisi yang hidup di dalamnya.
(*/naz)
Penulis: Indah Fitri Nugraheni/Politeknik Negeri Madiun