Jawa Pos Radar Madiun - Sejak kemunculannya di penghujung 2000-an, Deafheaven berkembang menjadi salah satu band paling berpengaruh dalam musik ekstrem modern.
Berbasis di San Francisco, Amerika Serikat, grup ini dikenal karena keberaniannya meramu elemen black metal, shoegaze, post-rock, hingga screamo menjadi lanskap suara yang emosional, atmosferik, dan inovatif.
Pendekatan eksperimental itu menjadikan Deafheaven sebagai garda depan gerakan post-black metal atau yang kerap disebut blackgaze.
Awal Pembentukan
Deafheaven dibentuk pada 2010 oleh George Clarke (vokal) dan Kerry McCoy (gitar).
Mulanya hanya berupa proyek duo, formasi ini kemudian berkembang menjadi band penuh yang stabil secara kreatif.
Sejak awal, Deafheaven menunjukkan bahwa mereka bukan band black metal konvensional.
Identitas mereka tercermin dalam:
-
vokal scream tinggi khas black metal,
-
lapisan gitar ber-efek yang kental nuansa shoegaze,
-
progresi akor melankolis ala post-rock,
-
struktur lagu panjang dan sinematik,
-
lirik personal dan introspektif—jauh dari tema tradisional black metal.
Hasilnya adalah paradoks sonik: musik yang gelap sekaligus indah, keras namun memikat secara emosional.
Titik Balik: Sunbather (2013)
Album kedua mereka, Sunbather, menjadi terobosan besar yang mendefinisikan genre sekaligus melejitkan nama Deafheaven ke panggung global.
Dirayakan sebagai salah satu album terbaik dekade 2010-an, Sunbather membawa blackgaze ke audiens yang lebih luas.
Album ini menampilkan:
-
komposisi panjang penuh perubahan emosi,
-
perpaduan agresi dengan melodi yang terang,
-
tema kerinduan, kecemasan, serta idealisme yang runtuh,
-
produksi bersih yang menantang estetika raw black metal.
Sampul berwarna pink, sangat anti-mainstream untuk musik metal, menjadi simbol kebebasan artistik Deafheaven.
Evolusi Album demi Album
New Bermuda (2015)
Lebih kelam dan agresif. Album ini memadukan black metal intens dengan riff yang lebih berat, menggambarkan kehampaan dan disorientasi manusia modern.
Ordinary Corrupt Human Love (2018)
Lebih melodis dan “hangat.” Band memasukkan elemen progresif dan post-rock cerah tanpa meninggalkan intensitas emosional khas mereka.
Infinite Granite (2021)
Inilah perubahan paling drastis dalam diskografi mereka. George Clarke banyak menggunakan clean vocal, sementara instrumentasi bergerak ke arah dream pop, shoegaze, dan alt-rock.
Meski menuai kontroversi di kalangan penggemar lama, album ini menegaskan keberanian Deafheaven untuk terus bereksperimen.
Tema Lirik dan Filosofi Musik
Berbeda dengan black metal tradisional yang sering mengusung tema okultisme atau anti-religius, Deafheaven memilih pendekatan lebih humanistik: kerentanan, spiritualitas universal, introspeksi, dan pergulatan batin.
Pendekatan ini membuat karya mereka terasa lebih luas dan relevan lintas pendengar.
Warisan dan Pengaruh
Deafheaven kini dianggap sebagai salah satu band yang berhasil merobohkan batas-batas genre.
Pengaruh mereka terasa dalam banyak subgenre, dari post-black metal, shoegaze gelap, hingga band-band modern yang memadukan atmosfer lembut dengan distorsi ekstrem.
Dengan kemampuan menggabungkan keindahan dan kekacauan, agresi dan kontemplasi, Deafheaven membuktikan bahwa musik ekstrem tidak harus terkurung oleh pakem.
Evolusi mereka dari blackgaze menuju dream pop adalah bukti bahwa keberanian bereksperimen adalah inti dari seni yang terus hidup. (fin)
Editor : AA Arsyadani