Jawa Pos Radar Madiun - Isu dugaan perselingkuhan antara Inara Rusli dan Insanul Fahmi, suami dari Wardatina Mawa, kembali menjadi bahan perbincangan hangat publik.
Polemik ini semakin melebar setelah Mawa resmi membuat laporan ke Polda Metro Jaya atas dugaan perzinaan yang melibatkan keduanya. Tak berhenti di situ, muncul kabar baru yang membuat situasi semakin memanas.
Dalam sesi tanya jawab melalui fitur Instagram Q&A, pengasuh Pondok Pesantren Asshiddiyah Jakarta, Mahrus Iskandar, mendapat pertanyaan dari seorang warganet terkait isu bahwa Inara dan Fahmi telah melangsungkan pernikahan siri.
Menanggapi pertanyaan itu, Mahrus memberikan jawaban yang langsung memantik perhatian publik.
“Informasi yang saya terima beberapa waktu lalu, katanya memang ‘iya’,” ujar Mahrus, menyampaikan kabar yang ia dengar.
Kendati demikian, ia menegaskan bahwa informasi tersebut tidak bisa dianggap sebagai kesimpulan final.
Mahrus meminta masyarakat bersikap hati-hati dan tidak langsung percaya sebelum ada klarifikasi dari pihak yang berkaitan langsung dengan isu tersebut.
“Lebih baik menanyakan atau menunggu konfirmasi dari mereka langsung. Karena yang berhak menjawab adalah yang bersangkutan,” jelasnya.
Ketika warganet bertanya mengapa ia berani menyinggung isu sensitif tersebut, Mahrus menjelaskan bahwa setiap orang memiliki sudut pandang dan pertimbangan berbeda dalam merespons sebuah informasi.
“Apapun sudah dipertimbangkan. Tinggal niat kita bagaimana dalam menyikapi. Mencari ridho manusia sepenuhnya adalah tujuan yang tidak mungkin dicapai,” ungkapnya.
Ia juga menekankan bahwa apa yang ia dengar berpotensi tidak akurat, sehingga publik diminta bijak dalam menafsirkan pernyataannya.
“Sebaiknya menunggu langsung dari yang bersangkutan, bukan dari saya,” tegasnya.
Dalam catatan, interaksi antara Mahrus dan Inara memang pernah terjadi sebelumnya. Pada 19 Mei 2025, mereka bertemu dalam sebuah agenda diskusi di kantor Dompet Dhuafa, yang turut dihadiri Parni Hadi.
Pertemuan tersebut membahas peluang kerja sama sosial bukan isu pribadi seperti yang kini ramai menjadi bahan spekulasi publik.
(*/naz)
Penulis: Indah Fitri Nugraheni/Politeknik Negeri Madiun