Jawa Pos Radar Madiun - Nama Tasya Allesia kini resmi tercatat sebagai juara pertama Dangdut Academy 7 Indosiar.
Penyanyi muda asal Tangerang Selatan, Banten, itu membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih mimpi besar di panggung pencarian bakat nasional.
Sebelum dikenal luas seperti sekarang, kehidupan Tasya dipenuhi ujian berat. Dalam cuplikan tayangan Dangdut Academy 7 yang diunggah kanal YouTube Indosiar beberapa waktu lalu, terungkap kondisi keluarga Tasya yang sempat berada di titik terendah.
Rumah tempat ia tinggal bahkan pernah ambruk dan hancur total akibat usia bangunan yang sudah tua serta diterjang hujan dan angin kencang.
Perjuangan Tasya tidak berhenti pada kondisi rumah yang memprihatinkan. Demi membantu perekonomian keluarga, ia sempat berjualan es milik ibunya di sekolah saat masih duduk di bangku SMP.
Perjuangan itu menjadi bagian dari keseharian Tasya sebelum akhirnya tampil di panggung megah DA7.
Seiring berjalannya kompetisi, Tasya bertransformasi menjadi kontestan dengan kualitas vokal yang konsisten dan mampu menjawab berbagai tantangan lagu dari para juri.
Di balik performanya, tersimpan motivasi personal yang kuat: mengangkat derajat kedua orang tuanya dan membuktikan bahwa dirinya mampu berhasil meski pernah diremehkan.
Melalui panggung Dangdut Academy 7, Tasya tidak sekadar mengejar popularitas. Ajang ini menjadi ruang pembuktian bahwa kerja keras, ketekunan, dan doa mampu mengubah jalan hidup seseorang secara signifikan.
Kondisi Rumah Tasya yang Pernah Ambruk
Dalam tayangan video yang ditampilkan di panggung DA7, kondisi kediaman Tasya terlihat sangat memprihatinkan sebelum diperbaiki.
Rumah tersebut tampak bocor saat hujan turun.
Ayah Tasya mengungkapkan bahwa setelah kejadian kebocoran itu, bangunan rumah mereka benar-benar roboh karena struktur yang sudah rapuh dan tidak mampu menahan terpaan angin.
Peristiwa tersebut memaksa keluarga Tasya tinggal di kontrakan selama dua tahun, sebelum akhirnya rumah mereka dibangun kembali oleh pemerintah di atas tanah milik sendiri.
Kehadiran kotak pendingin (coolbox) styrofoam dalam tayangan itu juga menjadi simbol perjuangan Tasya, yang kala itu kerap membawa dagangan es ke sekolah untuk membantu ekonomi keluarga.
Dukungan Orang Tua Jadi Kekuatan
Keberhasilan Tasya DA7 tidak terlepas dari peran besar kedua orang tuanya. Sang ibu diketahui selalu setia mendampingi dan memberikan dukungan spiritual setiap kali Tasya tampil di panggung.
“Yang penting belajar, belajar, dan belajar selebihnya kita serahkan semuanya sama Allah,” ucap ibunda Tasya dalam tayangan tersebut.
Pesan itu menjadi kekuatan bagi Tasya yang sejak kecil dikenal belajar menyanyi secara otodidaktik melalui YouTube, bahkan sejak masih duduk di bangku TK.
Bangkit dari Luka Bullying
Di balik ketangguhannya, Tasya Tangerang Selatan juga menyimpan luka masa kecil. Ia mengaku pernah mengalami perundungan (bullying) saat masih SD karena kegemarannya menyanyi dangdut.
Namun pengalaman pahit tersebut tidak membuatnya mundur.
Sebaliknya, Tasya menjadikan rasa sakit itu sebagai energi untuk membuktikan kemampuannya.
“Tasya ingin berjuang sekeras mungkin demi mengangkat derajat kedua orang tua Tasya dan bikin bangga. Tasya mau buktiin sama orang yang pernah ngerendahin Tasya kalau Tasya bisa berhasil bisa jadi orang yang sukses,” ujar remaja kelahiran 2010 tersebut.
Editor : Ockta Prana Lagawira