Jawa Pos Radar Madiun - Kolaborasi antara Full of Hell dan Nothing menjadi salah satu eksperimen paling berani di lanskap musik ekstrem kontemporer.
Dua band dengan identitas nyaris berseberangan ini memilih untuk bertemu di wilayah yang tidak nyaman, sunyi, dan gelap yang menghasilkan album kolaboratif berjudul When No Birds Sang.
Full of Hell selama ini dikenal sebagai unit grindcore/noise yang agresif dan tak kenal ampun.
Sementara itu, Nothing membangun reputasinya lewat shoegaze dan alternative rock yang sarat melankoli serta introspeksi emosional.
Alih-alih menonjolkan perbedaan, kolaborasi ini justru menanggalkan ciri-ciri lama mereka demi membangun bahasa musikal baru yang radikal.
When No Birds Sang tidak menawarkan riff yang mudah diingat atau struktur lagu konvensional.
Album ini bergerak sebagai lanskap suara yang muram, dibangun dari lapisan "noise, ambient gelap, drone, dan sentuhan industrial".
Vokal hadir samar, lebih menyerupai bisikan atau gema emosional ketimbang pusat narasi.
Produksinya sengaja dibuat kasar dan tidak ramah telinga.
Distorsi panjang, dengung yang berlapis, serta tekstur suara yang saling bertabrakan menciptakan atmosfer sesak dan hampa.
Sebuah pengalaman mendengarkan yang menuntut kesabaran sekaligus keberanian.
Bagi Full of Hell, album ini menegaskan posisi mereka sebagai entitas eksperimental yang melampaui grindcore.
Elemen cepat dan brutal nyaris sepenuhnya disingkirkan, digantikan oleh tekanan sonik yang lambat, dingin, dan menghantui.
Ini bukan sekadar evolusi, melainkan dekonstruksi total.
Nothing, di sisi lain, menyuntikkan nuansa emosional khas mereka ke dalam atmosfer album.
Walau tanpa dentuman shoegaze yang eksplisit, rasa murung, kehampaan, dan keputusasaan tetap meresap kuat di setiap lapisan suara.
Album ini jelas bukan konsumsi semua orang.
Pendengar yang mengharapkan pola lagu yang jelas kemungkinan akan merasa tersesat.
Namun bagi penikmat noise, ambient gelap, dan industrial eksperimental, When No Birds Sang adalah pengalaman intens yang menggugah secara emosional dan artistik.
Lebih dari sekadar album, karya ini terasa seperti instalasi suara, sebuah perjalanan ke ruang sunyi yang penuh tekanan batin.
When No Birds Sang membuktikan bahwa kolaborasi lintas genre, ketika dilakukan tanpa kompromi, dapat melahirkan karya yang "menantang, suram, dan artistik". (fin)
Editor : AA Arsyadani