Jawa Pos Radar Madiun – Di balik senyum manisnya di layar kaca, aktris Aurelie Moeremans ternyata menyimpan luka batin yang mendalam.
Baru-baru ini, ia memberanikan diri membuka pengalaman paling gelap dalam hidupnya melalui sebuah buku memoar berjudul 'Broken Strings'.
Dalam buku tersebut, Aurelie secara blak-blakan menceritakan bagaimana dirinya menjadi korban praktik grooming sejak usia remaja.
Buku ini bukan sekadar curahan hati, melainkan sebuah pengakuan tentang proses manipulasi emosional yang mengerikan namun berlangsung secara perlahan.
Aurelie menggambarkan bagaimana sosok pelaku yang awalnya terlihat peduli dan memberi perhatian, justru perlahan membangun kontrol penuh atas dirinya.
Manipulasi Berkedok Perlindungan Semu
Melalui Broken Strings, Aurelie ingin mematahkan anggapan bahwa kejahatan terhadap perempuan selalu berbentuk kekerasan fisik atau ancaman langsung.
Menurut pengalamannya, grooming sering kali hadir lewat sikap manis, perlindungan semu, dan kedekatan emosional yang tampak aman.
Hal inilah yang membuat korban sering kali tidak sadar bahwa batasan pribadi mereka sedang dikikis perlahan-lahan.
Aurelie menekankan bahwa grooming adalah kejahatan yang sering tersembunyi, namun dampaknya sangat merusak mental korban dalam jangka panjang.
Waspada! Ini Tanda-Tanda Grooming
Belajar dari kisah Aurelie, masyarakat terutama orang tua dan remaja perlu memahami apa itu grooming.
Secara umum, grooming adalah pola perilaku terencana untuk membangun kepercayaan korban sebelum melakukan eksploitasi.
Pelaku sengaja membangun hubungan untuk memanipulasi atau mengendalikan orang yang rentan.
Berikut adalah modus operandi pelaku grooming yang perlu diwaspadai:
1. Pendekatan Positif
Pelaku memulai dengan memberi pujian, dukungan, atau rasa aman agar korban merasa nyaman.
2. Kedekatan Emosional
Korban dibuat merasa spesial dan dianggap sebagai "satu-satunya" yang dimengerti oleh pelaku.
3. Isolasi
Pelaku berusaha memisahkan korban dari lingkungan pendukungnya, seperti keluarga atau teman, agar korban semakin bergantung padanya dan sulit meminta bantuan.
4. Manipulasi Psikologis
Tidak melulu seksual di awal, kuncinya adalah manipulasi mental hingga korban tak sadar sedang diperdaya.
Lewat bukunya, Aurelie berharap kisahnya bisa membuka mata banyak orang agar tidak ada lagi yang terjebak dalam lingkaran setan manipulasi ini. (naz)
Editor : Mizan Ahsani