Jawa Pos Radar Madiun - Film bela diri Mandarin akhirnya mendapatkan kebangkitan yang layak lewat Blades of the Guardians, epik wuxia berdarah panas yang digarap maestro laga Yuen Woo-ping.
Disutradarai sosok legendaris di balik berbagai adegan pertarungan klasik, film ini dipimpin oleh aksi intens Wu Jing, bersama deretan bintang seperti Nicholas Tse dan Chen Lijun.
Sejak menit pertama, film ini langsung menghentak tanpa basa-basi.
Adegan pembuka ditutup dengan duel tiga arah yang mematikan, melibatkan Wu Jing, Jet Li, dan Max Zhang, sebuah pernyataan tegas bahwa ini bukan wuxia biasa.
Baca Juga: “Tuhan, Bantu Aku Menyelamatkan Satu Orang Lagi”, Kisah Nyata Desmond Doss di Film Hacksaw Ridge
Kisah Pendekar Buronan di Ujung Dinasti Sui
Berlatar masa senja Dinasti Sui (581–618), cerita berpusat pada Dao Ma (Wu Jing), mantan pengawal istana yang berubah menjadi buronan nomor dua paling dicari setelah tragedi kelam di masa lalu.
Ia kini hidup dalam pelarian bersama seorang anak yatim, Xiao Qi, yang setia mengikutinya ke mana pun.
Dao Ma mendapat tugas berbahaya dari sahabat lamanya, Mo (Tony Leung Ka-fai), untuk mengawal Zhishilang, otak di balik pemberontakan terhadap negara, menuju ibu kota Chang’an.
Misi ini menyeretnya kembali ke pusaran konflik politik dan perburuan tanpa henti oleh para pemburu bayaran.
Di tengah rentetan pertarungan brutal dan kejar-kejaran berdarah, film ini memang dipenuhi banyak karakter dengan latar belakang kompleks.
Adaptasi dari komik populer Tiongkok ini terasa padat, bahkan terkadang nyaris terlalu rumit.
Namun Yuen Woo-ping tahu betul apa yang diinginkan penonton: aksi cepat, duel intens, dan koreografi pertarungan yang menggigit.
Visual Spektakuler, Aksi Tanpa Ampun
Dengan durasi 126 menit penuh aksi, film ini hampir tak memberi ruang bernapas untuk eksposisi panjang.
Lanskap gurun yang luas menghadirkan latar visual menawan yang kontras dengan darah dan baja di layar.
Chen Lijun tampil mencuri perhatian sebagai Ayuya, putri keras kepala pemimpin Mo Clan. Sementara Yosh Yu Shi memberi warna sebagai pendekar rival yang karismatik.
Sayangnya, Nicholas Tse, meski mendapat kredit utama, baru benar-benar bersinar menjelang klimaks, membuat konflik emosional karakternya terasa kurang tergali.
Meski alur cerita terkadang terasa terlalu kompleks dan lebih cocok untuk format serial terbatas, kekuatan visual dan energi brutal film ini tetap sulit diabaikan.
Genre wuxia memang sempat meredup, tetapi Blades of the Guardians membuktikan bahwa napasnya masih panjang.
Apakah Film Ini Layak Ditonton?
Film ini mungkin bukan wuxia terbaik sepanjang masa. Namun dalam beberapa tahun terakhir, sulit menemukan karya dengan intensitas dan keberanian setajam ini.
Bagi penggemar laga klasik yang rindu duel pedang penuh emosi dan koreografi kelas dunia, film ini adalah suguhan yang memuaskan. (fin)
Editor : AA Arsyadani