Jawa Pos Radar Madiun - Film Para Perasuk menjadi karya terbaru dari Wregas Bhanuteja yang siap menghantui bioskop Indonesia pada April 2026.
Menggabungkan unsur horor dan drama supernatural, film ini menghadirkan konsep yang tidak biasa dengan pendekatan yang lebih mendalam dan sarat makna.
Desa dengan Tradisi Kerasukan yang Tak Biasa
Cerita membawa penonton ke Desa Latas, sebuah desa fiktif dengan tradisi yang unik sekaligus mengerikan.
Di tempat ini, kerasukan roh bukan dianggap sebagai ancaman, melainkan menjadi bagian dari hiburan dan ritual yang dinantikan oleh warga.
Masyarakat desa secara rutin mengikuti “pesta kerasukan”, di mana mereka dengan sengaja membiarkan tubuhnya dirasuki roh sebagai bentuk pelarian dari tekanan hidup sehari-hari.
Ambisi Bayu di Tengah Tradisi Mistis
Tokoh utama dalam film ini adalah Bayu, seorang pemuda desa yang memiliki ambisi besar untuk menjadi “perasuk” atau pawang dalam ritual tersebut.
Namun, ambisinya tidak sekadar mengikuti tradisi. Bayu ingin memanfaatkan kemampuannya untuk melindungi keluarga sekaligus menyelamatkan desanya dari ancaman penggusuran.
Konflik mulai berkembang ketika ambisi pribadi bertemu dengan realitas sosial yang semakin kompleks.
Horor yang Sarat Makna dan Psikologis
Para Perasuk tidak hanya menghadirkan teror supranatural, tetapi juga ketegangan psikologis yang kuat.
Ritual yang awalnya dianggap hiburan perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap dan berbahaya. Ancaman yang muncul tidak hanya berasal dari dunia gaib, tetapi juga dari konflik sosial yang membayangi kehidupan warga.
Atmosfer Realistis yang Mencekam
Berbeda dari film horor konvensional, Wregas Bhanuteja menghadirkan pendekatan yang lebih realistis dalam menggambarkan fenomena kerasukan.
Tanpa efek berlebihan, suasana tetap terasa intens dan menegangkan. Pendekatan ini membuat penonton tidak hanya merasakan ketakutan, tetapi juga memahami makna di balik tradisi yang ditampilkan.
Para Perasuk menawarkan pengalaman horor yang lebih dalam dan reflektif.
Dengan latar desa yang unik, konflik sosial yang kuat, serta atmosfer yang mencekam, film ini diprediksi menjadi salah satu tontonan paling menarik pada April 2026, khususnya bagi penonton yang mencari horor dengan cerita yang lebih bermakna.
Editor : Dwita Ikhtiananda