Jawa Pos Radar Madiun - Industri perfilman Indonesia kembali menghadirkan warna baru melalui film Harusnya Horor, karya terbaru dari Reza Arap yang dijadwalkan tayang pada April 2026. Film ini langsung mencuri perhatian karena menjadi langkah penting Arap sebagai sutradara film panjang, setelah sebelumnya dikenal sebagai kreator konten digital dan musisi.
Mengusung genre horor komedi, film ini disebut menghadirkan pendekatan berbeda dibandingkan tren horor Indonesia yang cenderung serius dan penuh teror.
Debut Reza Arap di Kursi Sutradara
Film ini menjadi tonggak baru dalam perjalanan karier Reza Arap di industri hiburan. Ia tidak hanya duduk di kursi sutradara, tetapi juga ikut terlibat sebagai pemeran utama.
Diproduksi oleh Ess Jay Pictures, proyek ini melibatkan sejumlah nama penting seperti David Suwarto, Sridhar Jetty, dan Jimmy Lalwani sebagai produser. Sementara itu, penulisan naskah dipercayakan kepada Rahabi Mandra dan Syahrun Ramadhan.
Langkah ini memperlihatkan keseriusan Arap dalam memperluas eksplorasi kreatifnya ke dunia perfilman.
Sinopsis: Hantu yang Tidak Menyeramkan
Film ini menghadirkan premis yang unik dan tidak biasa. Cerita berpusat pada sekelompok kreator konten yang berusaha membuat konten horor demi mendapatkan keuntungan.
Namun, rencana mereka justru berbalik arah ketika bertemu dengan sosok hantu yang tidak menyeramkan. Alih-alih menakuti, hantu tersebut malah bekerja sama dengan mereka untuk menciptakan konten yang tampak menyeramkan.
Seiring berjalannya cerita, hubungan antara manusia dan makhluk supranatural tersebut berkembang menjadi kisah yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menyentuh, dengan sentuhan tema persahabatan dan makna kehidupan.
Baca Juga: 8 Film Horor Awi Suryadi Terlaris Sepanjang Masa, KKN Desa Penari hingga Danur
Angkat Fenomena “Demi Konten”
Salah satu kekuatan utama film ini terletak pada relevansinya dengan kondisi sosial saat ini, khususnya fenomena “demi konten” di media sosial.
Film ini secara tidak langsung menjadi refleksi terhadap tren kreator yang rela melakukan berbagai hal demi popularitas dan keuntungan. Pendekatan komedi membuat pesan tersebut terasa ringan, tetapi tetap memiliki kedalaman makna.
Dibintangi Kreator Digital dan Influencer
Selain Reza Arap, film ini juga menghadirkan sejumlah figur dari dunia digital, seperti Lula Lahfah serta komunitas kreator seperti AAA Clan dan Marapthon.
Kehadiran para kreator ini menjadi strategi menarik karena mampu mendekatkan film dengan audiens muda yang akrab dengan dunia media sosial.
Antusiasme Publik dan Rilis Teaser
Menjelang penayangannya, Harusnya Horor mulai ramai diperbincangkan setelah teaser resminya dirilis pada April 2026. Cuplikan tersebut menampilkan perpaduan horor dan komedi yang tidak biasa, sehingga memicu rasa penasaran penonton.
Respons positif di media sosial menunjukkan bahwa film ini memiliki potensi besar untuk menarik perhatian, terutama dari generasi digital.
Posisi di Industri Film Indonesia
Di tengah dominasi film horor konvensional, Harusnya Horor hadir sebagai alternatif yang lebih segar dan eksperimental. Perpaduan komedi, kritik sosial, dan unsur supranatural membuatnya menonjol di antara rilisan lainnya.
Jika berhasil, film ini berpotensi membuka peluang lebih luas bagi kreator digital untuk masuk ke industri perfilman Indonesia.
Baca Juga: 8 Fakta Film Para Perasuk (2026), Horor Psikologis dengan Tradisi Kerasukan yang Unik
Film Harusnya Horor tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga menjadi refleksi dari fenomena sosial masa kini. Debut penyutradaraan Reza Arap menjadi daya tarik utama, didukung konsep cerita yang unik dan relevan dengan kehidupan generasi digital.
Dengan jadwal tayang pada April 2026, film ini berpotensi menjadi salah satu tontonan yang paling menarik dan berbeda di tahun tersebut.
Editor : Dwita Ikhtiananda