Jawa Pos Radar Madiun - Eksistensi ludruk di Surabaya hari ini tengah berada dalam fase transisi penting untuk menyesuaikan diri dengan selera zaman tanpa kehilangan identitas aslinya.
Inovasi menjadi kunci utama, di mana durasi pementasan dibuat lebih ringkas dan tema yang diangkat harus tetap kontekstual dengan kehidupan milenial.
Pemanfaatan teknologi dan media digital menjadi pintu masuk yang sangat potensial bagi keberlangsungan ludruk di masa depan.
Fenomena viralnya potongan dagelan di media sosial membuktikan bahwa pasar untuk konten komedi tradisional sebenarnya masih sangat besar dan diminati.
Pendekatan kolaboratif dengan sektor pendidikan dan pariwisata juga terus digalakkan untuk memperkenalkan kesenian ini sejak dini kepada para siswa.
Baca Juga: Mati Suri atau Bertahan? Ini Tantangan Kelompok Ludruk Surabaya di Era Hiburan yang Serba Instan
Integrasi dalam kurikulum budaya serta penyediaan panggung reguler di tingkat kampung diharapkan dapat menghidupkan kembali kedekatan seni ini dengan masyarakat akar rumput.
Dari sisi kebijakan, rencana pembentukan Dewan Kebudayaan Surabaya diharapkan menjadi momentum strategis bagi para seniman untuk mendapatkan dukungan yang lebih sistematis.
Masa depan ludruk tidak hanya ditentukan oleh seniman, tetapi juga oleh publik yang bersedia menonton, pemerintah yang konsisten mendukung, dan generasi muda yang mau belajar.
Jika sinergi ini berjalan dengan baik, ia akan kembali menemukan panggung utamanya bukan sebagai bayang-bayang masa lalu, melainkan sebagai bagian hidup dari Surabaya masa kini.
Transformasi ini menjadi bukti bahwa tradisi bisa tetap relevan jika dirawat dengan kemauan keras dan kreativitas yang tak terbatas. (naz)
Editor : Mizan Ahsani