Jawa Pos Radar Madiun - Para Perasuk (2026) menjadi salah satu film Indonesia yang paling dinantikan karena mengangkat tema budaya lokal dengan pendekatan psikologis yang tidak biasa.
Disutradarai oleh Wregas Bhanuteja, film ini menyajikan kisah tentang tradisi, ambisi, serta konflik sosial di tengah masyarakat desa yang masih memegang teguh kepercayaan leluhur.
1.Sinopsis Film Para Perasuk (2026)
Berlatar di Desa Latas, film ini berfokus pada tokoh Bayu yang diperankan oleh Angga Yunanda.
Ia adalah pemuda yang memiliki ambisi besar untuk menjadi Perasuk Utama dalam tradisi pesta sambetan, sebuah ritual unik di mana masyarakat dipercaya dapat dirasuki roh binatang.
Baca Juga: Film "Ghost in the Cell" Gabungkan Horor dan Konflik Kehidupan Penjara
Namun, ambisi tersebut berubah menjadi perjuangan besar ketika Desa Latas menghadapi ancaman penggusuran mata air keramat sumber kehidupan sekaligus pusat ritual warga.
Bayu pun tidak hanya berjuang untuk status sosial, tetapi juga dipaksa memimpin upaya penyelamatan desanya melalui sebuah pesta besar untuk mengumpulkan dana.
2. Tema dan Makna Cerita
Film Para Perasuk bukanlah film horor, melainkan drama psikologis yang menyoroti sisi emosional dan sosial manusia.
Beberapa tema utama yang diangkat antara lain:
Konflik antara tradisi dan modernisasi
Ambisi individu dalam masyarakat adat
Kepercayaan dan identitas budaya
Tekanan sosial dalam komunitas kecil
Baca Juga: Drama Keluarga dalam Film Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya? Penuh Emosi dan Realita
Tradisi pesta sambetan sendiri merupakan elemen fiksi yang dirancang untuk memperkuat narasi, namun tetap terasa dekat dengan realitas sosial masyarakat Indonesia.
3. Daftar Pemeran Utama
Film ini diperkuat oleh jajaran aktor dan aktris ternama Indonesia, di antaranya:
Maudy Ayunda sebagai Laksmi
Anggun C. Sasmi sebagai Guru Asri
Chicco Kurniawan sebagai tokoh penting Desa Latas
Angga Yunanda sebagai Bayu
Bryan Domani sebagai Ananto
Kehadiran para pemain ini memperkuat dinamika emosional cerita, terutama dalam menggambarkan hubungan antar warga desa yang kompleks dan penuh tekanan budaya.
4. Gaya Penyutradaraan Wregas Bhanuteja
Sebagai sutradara, Wregas Bhanuteja dikenal dengan pendekatan visual yang simbolik dan narasi yang kuat secara sosial.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Film Tontonan Hari Kartini 2026: Kisah Inspiratif Perempuan Hebat
Dalam Para Perasuk, ia kembali mengeksplorasi batas antara realitas, kepercayaan, dan psikologi manusia, menjadikan film ini tidak hanya sekadar tontonan, tetapi juga bahan refleksi.
Para Perasuk (2026) hadir sebagai film drama psikologis yang menawarkan sudut pandang baru tentang tradisi dan kehidupan masyarakat desa. Dengan cerita yang kuat, konflik yang relevan, serta dukungan aktor berbakat, film ini diprediksi menjadi salah satu karya penting dalam perfilman Indonesia modern.
Penulis
Liliana Vicha Dhani, Mahasiswi Universitas Airlangga
Editor : Andi Chorniawan