Jawa Pos Radar Madiun - Film Ghost in the Cell (2026) karya sutradara Joko Anwar menjadi salah satu film Indonesia yang paling banyak dibicarakan tahun ini.
Mengusung genre horor-komedi dengan latar penjara, film ini tidak hanya menawarkan teror supranatural, tetapi juga menyelipkan kritik sosial yang tajam tentang sistem hukum dan kehidupan di balik jeruji besi.
1. Konsep Unik: Hantu dan Narapidana dalam Satu Penjara
Film ini menghadirkan premis yang tidak biasa: sebuah penjara yang dihuni oleh hantu yang mengincar narapidana dengan “aura negatif”.
Baca Juga: Film "Ghost in the Cell" Gabungkan Horor dan Konflik Kehidupan Penjara
Konsep ini menggabungkan tiga elemen utama:
Horor supernatural
Komedi gelap
Satir sosial
Perpaduan tersebut membuat Ghost in the Cell terasa segar, unik, dan berbeda dari film horor Indonesia pada umumnya.
2. Set Penjara Dibangun Khusus dari Nol
Salah satu fakta paling menarik dari produksi film ini adalah pembangunan set penjara secara khusus oleh tim produksi.
Set tersebut dirancang dengan detail tinggi dan terinspirasi dari Lapas Sukamiskin di Bandung, yang dikenal sebagai salah satu lembaga pemasyarakatan bersejarah di Indonesia sejak tahun 1918.
Baca Juga: Drama Keluarga dalam Film Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya? Penuh Emosi dan Realita
Pendekatan ini membuat atmosfer film terasa lebih autentik dan realistis.
3. Proses Syuting Singkat tapi Efisien
Produksi film ini juga mencuri perhatian karena sistem kerja yang berbeda dari kebanyakan film besar lainnya:
Jam kerja maksimal hanya 7 jam per hari
Total syuting hanya berlangsung 22 hari
Jadwal dibuat lebih fleksibel untuk kru dan pemain
Model produksi ini dinilai lebih manusiawi tanpa mengorbankan kualitas film.
4. Kolaborasi Visual dengan Ilustrator Internasional
Adegan-adegan kematian dalam film ini tidak dibuat sembarangan. Tim produksi menggandeng ilustrator kelas dunia untuk merancang visual yang artistik sekaligus mencekam.
Baca Juga: Film Konser 3D Billie Eilish Tayang Mei 2026, Hadirkan Pengalaman Imersif di Bioskop
Hasilnya, setiap adegan memiliki sentuhan estetika yang kuat dan tidak hanya menonjolkan unsur horor, tetapi juga seni visual.
5. Deretan Pemain Film Ghost in the Cell
Film ini diperkuat oleh jajaran aktor papan atas Indonesia, di antaranya:
Abimana Aryasatya
Morgan Oey
Lukman Sardi
Bront Palarae
Tora Sudiro
Aming
Kehadiran para aktor ini memperkuat karakterisasi dan dinamika cerita dalam film.
6. Soundtrack yang Tak Biasa
Salah satu elemen paling unik dari film ini adalah penggunaan lagu anak-anak “Cicak-cicak di Dinding” sebagai soundtrack.
Alih-alih terasa ceria, lagu ini justru memberikan efek kontras yang membuat suasana film semakin tidak nyaman dan mencekam.
7. Antusiasme Tinggi di Hari Pertama
Sejak penayangan perdananya pada 16 April 2026, Ghost in the Cell langsung mencatat 154.279 penonton di hari pertama.
Angka ini menunjukkan tingginya antusiasme publik terhadap karya terbaru Joko Anwar.
Penulis
Liliana Vicha Dhani, Mahasiswi Universitas Airlangga
Editor : Andi Chorniawan